KNS-Ki Nartosabdho

Ki Nartosabdho

A. Lampahan Banjaran

  1. Ki Nartosabdho : Bima Kelana Jaya (Banjaran Bima)
  2. KNS : Banjaran Bima
  3. KNS : Banjaran Gatotkaca
  4. KNS : Banjaran Tetuka
  5. Ki Nartosabdho : Banjaran Arjuna I
  6. Ki Narto Sabdho: Banjaran Harjuna II
  7. Ki Nartosabdho : Banjaran Dorna
  8. KNS : Banjaran Bisma
  9. KNS : Banjaran Karna
  10. KNS : Lakon Banjaran
  11. KNS : Lakon Banjaran (New)

B. Lampahan Mahabarata : Leluhur Pandawa Kurawa

  1. KNS LAKON PALASARA KRAMA
  2. KNS : LAKON PALASARA KRAMA
  3. Ki Nartosabdho : Bambang Sakri Krama
  4. KNS : Resi Manumanasa
  5. Ki Nartosabdho : Pandu Gugur (Pamukso)

C : Lampahan Mahabarata : Jamannya Pandawa Kurawa Sebelum Baratayudha

  1. KNS : Update Gatotkaca Sungging
  2. Ki Nartosabdho : Gatutkaca Sungging
  3. Ki Nartosabdho – Gatotkaca Wisuda
  4. Ki Nartosabdho : Babad Wanamarta
  5. Ki Nartosabdho – Pandawa Gubah
  6. Ki Nartosabdho : Bale Golo-Golo
  7. KNS : Bale Golo Golo (Pakdhe MP)
  8. Ki Nartosabdho : Arjuna Wiwaha
  9. Ki Nartosabdho : Bambang Partodewa
  10. KNS : Bambang Partodewo (Live)
  11. Ki Nartosabdho : Banowati Janji
  12. Ki Narto Sabdho; Pendawa Ngenger
  13. Ki Nartosabdho : Gatotkaca Nagih Janji
  14. Ki Nartosabdho : Wirata Parwa
  15. Ki Nartosabdho : Sayembara Mentang Langkap
  16. Ki Nartosabdho : Sayembara Menthang Langkap
  17. Ki Nartosabdho Alap-alapan Satyoboma
  18. KNS Alap-alap Setyoboma (Live)
  19. KNS : Alap-alapan Larasati
  20. Ki Narto Sabdho; Pendawa Nugraha
  21. Ki Nartosabdho : Abimanyu Krama
  22. Ki Narto Sabdho: Kresna kembang (Alap2an Rukmini)
  23. Ki Narto Sabdho: Narayana Jumeneng Ratu
  24. KNS : Suteja Takon Bapa
  25. Ki Narto Sabdho; Udawa Sayembara
  26. KNS : Udawa Sayembara
  27. KNS : Gandamana Sayembara
  28. KNS : Brajadenta mBalela
  29. KNS : Kalabendana Gugur
  30. KNS : Kalabendana Gugur (Live)
  31. KNS : Pandawa Dadu
  32. Ki Nartosabdho : Pendawa Puruhito
  33. KNS : Begawan Tunggul Wulung
  34. KNS : Bimo Gugah
  35. KNS : Kangsa Adu Jago
  36. KNS : Pendadaran Siswa Sokalima
  37. KNS : Prabu Dewa Amral
  38. KNS : Sesaji rajasuya
  39. KNS Wisanggeni Krama
  40. KNS : Kumbayana
  41. KNS : PERMADI BOYONG

D : Lampahan Mahabarata : Menjelang dan terjadinya Baratayudha

  1. KNS : Drupada Duta
  2. KNS : Karno Dhuta
  3. Kresna Gugah
  4. Ki Nartosabdho : Kresno Duto (versi Singo Barong)
  5. Ki Nartosabdho – Abimanyu Gugur
  6. KNS : Durna Gugur
  7. Ki Narto Sabdho: Suluhan Gatutkaca Gugur
  8. Ki Nartosabdho : Karno Tanding (versi Singo Barong)
  9. Narasi: Karno Tanding (Ki Narto Sabdho)
  10. KNS : Salya Suyudana Gugur
  11. KNS : Parikesit Lahir
  12. KNS Parikesit Lahir (Live)
  13. KNS Lampahan Menjelang dan Jalannya Baratayudha
  14. KNS Lampahan Menjelang dan Jalannya Baratayudha (New)

E : Lampahan Mahabarata : Setelah berakhirnya Baratayudha

  1. Ki Nartosabdho : Pandawa Boyong
  2. KNS : Kalimataya
  3. Ki Nartosabdho : Parikesit Grogol
  4. KNS : Parikesit Grogol (lengkap)
  5. KNS : Resi Mayangkara

F : Lampahan Lokapala dan Ramayana

  1. KNS : Sumantri Ngenger
  2. Ki Narto Sabdho; Sastro Jendroyuningrat (Alap2 Sukesi)
  3. Ki Narto Sabdho: Dasamuka Lahir (Sastrojendroyuningrat)
  4. KNS : Rama Gandrung
  5. Ki Nartosabdho : Dasamuka Lena
  6. Ki Narto Sabdho: Kumbakarna Lena
  7. Ki Nartosabdho: Rama Tundung (Ramayana I)
  8. KNS : Lakon Lokapala dan Ramayana

G : Lampahan Wahyu, Goro-Goro

  1. Ki Nartosabdho : Goro-goro
  2. Ki Nartosabdho – Goro-Goro
  3. Goro-goro WO
  4. KNS : Pethilan2 Goro2_Ki Nartosabdho
  5. Wayang Orang: Petruk Kelangan Petel
  6. WO-Petruk Kelangan Petel (Re-Kondisi)
  7. Ki Nartosabdho : Bima Suci
  8. Ki Nartosabdho : Bima Sakti
  9. KNS : Cokro Ningrat
  10. KNS : Wahyu Mandera Retna
  11. KNS : Wahyu Makutharama (Live)

H : Lampahan Lainnya

  1. Ki Nartosabdho : Semar Kuning
  2. Ki Nartosabdho : Semar Kuning
  3. KNS : Semar maneges
  4. Ki Nartosabdho : Sudamala
  5. KNS : Dongeng Savitri (Satyavan)
  6. Ki Nartosabdho : Sawitri (dan Satyawan)
  7. KNS : Rama Nitis
  8. KNS : Pandawa Sapta
  9. KNS Pandawa Reca (Singo Barong)
  10. KNS : Arjunapati
  11. KNS : Maerokoco
  12. KNS : Semar Lakon
  13. KNS : Krida Hasta
  14. KNS : Mbangun Candi Sapto Renggo
  15. KNS : Narasoma

I : Mengenang Ki Nartosabdho

  1. Tambahan Koleksi dari Sang Maestro
  2. Nartosabdho collection
  3. KNS : New Collection
  4. Koleksi KNS baru
  5. Koleksi “Radio Swara Kenanga Jogja AM774″
  6. Lakon-lakon dari KNS yang terbit ulang
  7. Tirta Pawitra Mahening Suci
  8. PROFIL SANG MAESTRO
  9. Galeri Koleksi KNS
  10. Permadi Boyong, Crita Carangan Klasik
  11. KI NARTO SABDHO MENANGIS……..

J : Video

  1. Boma Gugur
  2. Samba Juwing
  3. Rahwana Gugur
  4. Karno Tanding
  5. Gatotkaca Lair
  6. Sumantri Ngenger
  7. Rama Nitis
  8. Salya Suyudana Gugur
  9. Bima Bungkus
  10. Kumbakarna Gugur
  11. Pandawa Ngenger
  12. Kresna Duta
  13. Dewa Ruci
  14. Video KNS “Bima Sakti” (Koleksi Honocoroko – 6 CD)

tug-of-war1

Sunarto nama aslinya, lahir di Wedi, Klaten, Jawa Tengah, tanggal 25 Agustus 1925 dari keluarga kurang mampu. Ayahnya, Partinojo seorang pembuat sarung keris. Oleh karena kemiskinannya ini Sunarto kecil tak dapat melanjutkan sekolahnya setelah putus sekolah angka “telu’ pada Standart School Muhammadiyah. Disudutkan pada situasi ekonomi yang sulit ini, Sunarto yang sudah beranjak remaja ikut menopang ekonomi keluarga dengan mencari uang melalui kemampuannya dalam bidang seni lukis. Merasa mampu pada bidang kesenian lainnya, dia pun kemudian turut memperkuat orkes keroncong “Sinar Purnama” sebagai pemain biola.

Minatnya yang besar pada dunia kesenian ini lebih tampak lagi ketika dia melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik. Terlebih-lebih setelah perkenalannya dengan Ki Sastrasabdho pada tahun 1945. Oleh pendiri Ngesti Pandowo ini Sunarto betul-betul ditempa kemampuannya dalam mengenali dan mendalami instrumen gendang.

Lewat Ki Sastrasabdho pula, Sunarto mengenal dunia pewayangan. Maka sejak itu pun Sunarto belajar mendalang . Antara Ki Sastrosabdho dan Sunarto adalah ibarat “Warangka manjing curuga, curiga manjing warangka”, keduanya adalah satu kesatuan sebagai anak dan bapak. Oleh karenanya kemudian Ki Sastrosabdho menganugerahi nama belakangnya kepada murid kinasihnya ini menjadi Nartosabdho.

Dari perjalanan hidupnya tersebut tampak bahwa Ki Nartosabdho telah melalui proses yang panjang dalam berkesenian . Jiwanya jadi kaya lantaran dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman batin baik dalam hidup maupun dalam berkesenian.

Pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan masyarakat telah memperkaya dirinya dengan berbagai pengetahuan, sampai-sampai Presiden Soekarno waktu itu menjadikan dirinya sebagai dalang kesayangannya.

Gending-gending Nartosabdhan

Perjalanan hidupnya yang liat dan panjang, terpancar jelas pada karya-karya gendhingnya yang memiliki karakter khas milik Ki Nartosabdho. Oleh sebab itu tak heran jika gendhing-gendhingnya mendapat istilah “Gendhing-gendhing Nartosabdhan”.

Ki Nartosabdho pula yang mendapat istilah sebagai seniman yang memiliki Tri Karsa Budhaya. Sebuah istilah yang dicetuskan oleh Sekretariat Pewayangan Indonesia itu memliki makna: Menggali, Mengembangkan, dan Melestarikan kebudayaan Nasional.

Dengan kesadaran Tri Karsa Budhaya inilah Ki Narto berjalan di belantara kesenian Indonesia . Beberapa lagu rakyat yang sempat dia gali antara lain, Kembang Glepang Banyumasan, Mijil Lelayu, Jurang Jugrug, Gudril dan lain-lain. Bersama perkumpulan Karawitan “Condong Raos” yang dia pimpin Ki Narto mengolah lagu-lagu kuna itu menjadi segar kembali.

Dalam melaksanakan Tri Karsa Budhaya ini Ki Narto bukannya tanpa mengalami rintangan, pada pertengahan pemunculannya bahkan sampai ada salah satu RRI yang tidak mau memutar gendhing-gendhing karyanya.

Namun dengan kegagahan seorang kreator yang tahan uji, Ki Narto malah tambah getol dalam mencipta dan berkreasi. Pandangannya yang moderat telah membuka wawasan berpikirnya lebih luas termasuk dalam mempelajari budaya Jawa.

Akhirnya, hampir pada setiap produk gendhing gendhingnya yang tersaji bersama perkumpulan karawitan “Condong Raos”, segera saja meledak di pasaran, terlebih lebih karena para dhalang yang sefaham dengan Ki Narto juga ikut mengembangkannya melalui seni pakelirin, maka otomatis gendhing-gendhing Nartosabdhan ini makin memasyrakat.

Sebut saja misalnya, siapa yang tak mengenal gendhing “Lesung Jumengglung”? atau juga gendhing Ampat Lima. Ditambah lagi di tahun-tahun akhir menjelang kepergiannya, Ki Narto juga menciptakan gendhing yang elok yakni Wawasan Identitas Jawa Tengah. Begitulah, gendhing-gendhing Nartosabdhan akhirnya menjadi air deras yang tak dapat dibendung. Dia mengalir terus menapaki waktu, bahkan hingga kini.

Sepertinya para seniman karawitan sepakat mengistilahkan karya-karya gending Ki Nartosabdho dengan sebutan gendhing-gendhing Nartosabdhan. Betapa tidak, dari dalang termasyur ini lahir ratusan karya gendhing yang menempatkan dirinya sejajar dengan seniman-seniman besar yang dimiliki oleh negeri ini.

Istimewa

Bukan cuma lantaran banyaknya jumlah karya yang telah dihasilkan (319 gending) sehingga gendhing-gendhingnya mendapatkan tempat yang istimewa di hati para seniman karawitan, budayawan, dalang maupun waranggana, namun secara kualitas nampaknya memang belum ada kreator lain yang mampu menandinginya.

Ini tak berlebihan, seperti yang saya ingat menjelang pemberangkatan jenazah Ki Narto dari rumah duka di Jalan Anggrek X, dari penuturan dalang Ki Anom Soeroto, Ki Timbul, Nyi Suharti, mereka mengaku bukan cuma kagum terhadap karya-karya almarhum, namun juga merasa pernah menjadi murid baik secara langsung maupun tak langsung dari seniman besar itu.

Adapun karakteristik yang terkandung di dalam gendhing-gendhing Nartosabdhan dapat ditandai lewat lagu lagu maupun gendhingnya yang berisi beberapa hal, misalnya, adanya unsur gregel seperti yang tertuang pada cakepan (syair) lagu Dhandhang Gula Sida Asih.

Adanya wiled (cengkok yang menunjukkan naik turunnya titi laras), hal ini nampak betul pada setiap lagu yang memasuki interlude. Sigrak, hampir setiap lagon (jenis gending yang terlepas dari Subokasto: Gending, Ketawang, Ladrang dan Lancaran), dan lain-lain, di dalamnya terkandung unsur dinamis yang merangsang orang yang mendengarnya untuk hanyut dalam lagu-lagu tersebut.

Sebagai contoh dari lagu yang memiliki unsur-unsur di atas misalnya tampak pada lagu kinudang Kudang. Lagu ini bukan saja memiliki unsur-unsur termaksud, namun juga memiliki keiistimewaan yang tak dimiliki oleh lagu-lagu lainnya, karena di dalam lagu ini terkandung pula obsesi pengarangnya kepada seseorang yang dikaguminya dari segi kemampuannya menyinden. Simaklah syair ini :

Kinudang kudang

Kinudang kudang tansah bisa leladi

Narbuka rasa tentrem angayomi

Tata susila dadi tepa tuladha

Sababe dek iku sarawungan kudu

Dadi srana murih guna kaya luwih

Ngrawuhi luhuring kabudayan

Tinulat sakehing bangsa manca

Rahayu sedya angembang rembaka

Jika kita urut dari atas ke bawah, maka akan berbunyi: Ki Nartosabdho – Ngatirah. Dan masih banyak lagi lagu-lagu sejenis di atas yang menurut saya juga berguna untuk menyelamatkan karya-karya Ki Nartosabdho dari para plagiat. Sebab ternyata, ia juga seorang seniman yang cerdik yang menyadari hak patent, jauh sebelum ada Yayasan Karya Cipta Indonesia.

Lelayu, begitulah judul komposisi tua berjenis mijil yang dikreasi kembali oleh Ki Nartosabdho yang dibawakan oleh kelompok Condong Raos, grup gamelan pimpinan Ki Narto pada persemayaman tersebut.

Layu-layu, umiring sang kinkin,

sajroning patunggon sung sasanti sang dyah kamuksane

Nedya anut mring sang guru laki

Kang gugur madyaning palugon…

Mijil Lelayu terdengar, mengantarkan sang maestro ke alam kelanggengan. Lagu sedih itu telah menggugurkan sekalian tangis para budayawan, dalang, pengrawit, pesinden dan semua yang pernah dekat dengan sang kreator. Bahkan pengusaha jamu sekaligus musisi Jaya Suprana yang mengaku pernah belajar pada almarhum, tak lama setelah kepergian Pak Narto, menyempatkan diri menggubah sebuah komposisi berjudul Epitaph II bagi sang guru.

Nama : NARTOSABDO Lahir : Klaten, Jawa Tengah, 25 Agustus 1925 (pn 7 Oktober 1985) Agama : Islam Pendidikan :

  • Standaard School Muhammadiyah
  • Akademi Seni Karawitan Indonesia, Solo

Karir :

  • Pembuat seruling
  • Pengantar susu
  • Pengusaha wayang kulit
  • Pemain Group Wayang Orang Ngesti Pandowo
  • Pemimpin Grup Wayang Orang Ngesti Pandowo
  • Dalang. Lagu-lagu keroncong dan langgam ciptaannya antara lain: Swara Suling, Ibu Pertiwi, Cluntang Binangun, Glopa-glape, Turi-turi Putih, Lumbung Desa, Lesung Jumengglung, Saputanganmu, Ayo Praon, Aja Lamis, dan Tahu-tahu Tempe

Sumber : jibis.pnri.go.id