Ramayana [11]


Jamadagni-Solo-02
Sigra Brahmana Ricika sawusnya midhanget aturira Sang Prabu Gadi, tumuli manjing wana nedya pepanggihan lawan Batara Waruna. Sidhakep saluku juga, ngeningake panca indriya, nutup babahan hawa sanga, sekawan kang binengkas, sajuga kang sinidikara. Tan antara dangu, tumurun saking awiyat Bathara Waruna mrepegi unggyaning Brahmana Ricika.

Brahmana Ricika setelah mendengar permintaan Sang Prabu Gadi, segera menuju hutan untuk bertemu dengan Batara Waruna. Mengambil sikap samadi, tangan disedekapkan di dada, mengheningkan panca indra, menutup sumber keluar hawa dari badan, terlihat begitu khusyunya. Tidak begitu lama kemudian maka turunlah dari langit Batara Waruna menuju tempat samadi Ricika.

“He cucuku Ricika, gerangan apa yang menyebabkan engkau terlihat sangat sedih terlihat dari pancaran wajahmu yang kusam, redup tanpa cahaya”

Mengetahui kedatangan Batara Waruna, segera Ricika menghaturkan sembah dan kemudian menuturkan pertemuannya dengan Prabu Gadi serta mengungkapkan empat permintaan darinya sebagai persyaratan untuk dapat membawa Dewi Setyawati menjadi istrinya. Dengan tersenyum bijak, Batara Waruna kemudian menanggapi

“Semua yang diminta oleh Prabu Gadi akan dapat terlaksana. Ayo kita bersama-sama menuju kahyangan”

Maka Batara Waruna mengupayakan semua persyaratan yang diminta. Kuda berjumlah seribu yang memiliki bulu berwarna merah serta yang telinga kiri berwarna hitam telah dapat disediakan. Kemudian Brahmana Ricika didandani hingga menjadi orang yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya, Ricika menjadi satria bagus tanpa cacat dan memiliki wajah yang begitu bersinar memancarkan perbawa. Dan kemudian diiringi oleh seribu dewa dewi, Ricika turun menuju negara Kanyakawaya.

Melihat kedatangan Ricika, seketika Prabu Gadi sangat terkesan, apalagi setelah bertatap wajah dengan Ricika hatinya menjadi terpikat terpengaruh perbawanya. Seluruh persyaratan kemudian diserahkan dan hari itu juga maka Ricika dikawinkan dengan Dewi Setyawati. Pada saat diadakan pesta pernikahan, ayah dari Ricika, Maharsi Brighu, datang untuk memberikan doa pangestu kepada pengantin dan berucap kepada pengantin perempuan

“Anakku angger Satyawati, dari rasa syukur yang rama rasakan hingga dasar hati, maka mintalah kepada rama sesuatu sebagai hadiah dari rama yang engkau inginkan”

“Dhuh Kanjeng Rama Resi, telah lama Rama Prabu memiliki keinginan yaitu anak laki-laki. Oleh karenanya kiranya Rama Resi dapat menjadikan lantaran untuk mewujudkan hal itu. Harapan saya kelak anak itu menjadi satria utama namun juga memiliki watak brahmana seperti ayahnya”

Terharu Sang Maharsi Brighu mendengar permintaan mantunya. Dirangkulnya dengan penuh kasih seraya berkata.

“Permintaanmu itu sungguh menunjukan akan sikapmu yang berbakti kepada orang tua dan suamimu. Dari berkah Tuhan Yang maha Agung, mudah-mudahan tidak terlalu lama lagi engkau dan ibumu bakal memiliki anak laki-laki yang engkau inginkan”

Maharesi Brighu kemudian memberikan dua bathok, tempurung, yang satu berisi sego sak rampadane, sajian nasi lengkap dengan asesorisnya, yang satunya berisi powan, air perasan yang harus diminum”.

Kemudian kata Sang Brahmana

”Bila engkau berhubungan suami istri, bersucilah setelahnya. Di belakang taman ada pohon pala, engkau peluklah pohon itu. Kelak engkau memperoleh turunan putra yang menjadi bunga bangsa dan menjadi pelita untuk terangnya dunia. Jangan sampai lupa, anakku Setyawati!”.

Setelah pahargyan usai dan para tamu sudah pamit pulang termasuk maharsi Brighu yang kembali ke pertapaan, terjadi peristiwa yang sungguh di sesalkan. Karena Dewi Setyawati begitu bahagianya sehingga tidak teliti serta melakukan kesalahan fatal. Tidak seperti petunjuk yang diberikan oleh mertuanya Maharsi Brighu, Sang Dewi justru memberikan kedua bathok itu serta persyaratan yang harus dilaksanakan kepada ayahnya.

Nun dipertapaan tempat tinggalnya, Maharsi Brighu melalui penglihatan gaib merasa sangat kaget melihat kenyataan yang tidak sesuai dengan yang telah disampaikan kepada menantunya. Dengan segera Maharsi datang kembali ke Dewi Setyawati seraya berkata

“Dhuh anakku Setyawati, mengapa justru kebalikan yang engkau laksanakan. Hal ini tidak bisa lagi diulang dan engkau lakukan lagi. Kelak di kemudian hari, anakmu bakal lahir bersifat satria dan orang tuamu akan memperoleh putra yang dikaruniai watak brahmana”.

Dewi Setyawati sangat kaget dan menyesal atas keteledoran yang dilakukan. Badannya langsung lemas, air mata kesedihan dan penyesalan membanjir disela tutur katanya

“Kanjeng Rama Resi, pabila memang hal ini telah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Agung, moga Rama Resi merasa kasihan terhadap saya yang cubluk ini. Mohon kiranya Rama Resi memintakan kepada Tuhan agar kelak cucu sayalah yang akan dikaruniai watak brahmana”.

Tangis penyesalan yang mengharukan akhirnya mampu meruntuhkan rasa kasihan Sang Maharsi Brighu, kemudian ucapnya pelan

“Putraku Setyawati, Rama perhatikan bahwa permintaanmu sungguh murni muncul dari dasar hati yang ikhlas. Mudah-mudahan Tuhan memberi berkah kepadamu dan anakmu tetap memiliki watak brahmana dan cucumu kelak menjadi satria utama. Ini yang terbaik bagimu sebagai penebus akan kesalahanmu tadi.”

Usai kata-kata terucap, Maharsi Brighu seketika lenyap dari pandangan Setyawati dan Sang Dewipun merasa lega dan bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan Sang Pencipta Alam.

Dan …. waktupun berjalan dengan cepat. Dewi Setyawati kemudian mengandung, setelah sembilan bulan sepuluh hari kemudian melahirkan seorang putra yang sungguh membawa cahya bening. Putranya itu kemudian diberi nama Jamadagni.

Sesuai apa yang diramalkan oleh Maharsi Brighu, maka Jamadagni tumbuh dan berkembang menjadi satria tampan dengan kedigdayaan tanpa tanding, namun dia juga senang belajar dari para brahmana tentang ilmu kehidupan, kawruh luhuring budi. Menyaksikan itu semua, Dewi Setyawati sangat bangga dan bahagia atas putranya yang memiliki watak SATRIYA PINANDHITA.

Prabu Gadi menyaksikan perkembangan cucunya itu dengan sangat senang. Sehingga kala Sang Prabu merasa telah saatnya untuk lengser keprabon, turun tahta, maka dengan kemantaban jiwa dia kemudian serahkan tahta kerajaan kepada cucunya Jamadagni.

Kebahagiaan dan berkah Tuhan seakan tiada putusnya diterima oleh Jamadagni. Setelah menduduki tahta kerajaan Kanyakawaya, diapun berhasil mempersunting seorang putri dari Prabu Prasnajid yang sangat terkenal akan keelokan rupa dan menjadi rebutan para raja dan satria untuk mendapatkannya. Dan yang dipilih oleh Dewi Renuka hanyalah Jamadagni seorang. Cinta kasih keduanya sungguh menggambarkan cinta tulus sejati yang indah tiada terperi.

Namun di tengah jaya-jayanya pemerintahan, karna watak Jamadagni memang satriya pinandhita, muncul keinginan untuk melaksanakan laku kabrahmanan setelah mengecap manis pahitnya laku seorang satria menjadi raja yang memerintah di negaranya. Dan niyatnya itu akhirnya dilaksanakan sehingga kemudian dia lengser keprabon. Setelah pamit kepada ayah dan ayah mertuanya maka lengser Sang Jamadagni nilar kamukten sarimbit lan ingkang garwa Dewi Renuka, turun tahta meninggalkan kemulyaan dan berbarengan bersama istrinya Dewi Renuka menuju hutan dan membangun pertapaan yang dibuatnya indah asri untuk menyenangkan hati istrinya yang belum juga mendapatkan momongan.

Namun Sang Renuka sebenarnyalah tidak terlalu peduli dengan apa yang telah dilakukan oleh suami tercintanya itu

“Kakang Pandhita, seharusnya tidak perlu paduka menciptakan segala keindahan dengan tujuan untuk menyenangkan hati saya. Kakang telah malaksanakan niyat lengser keprabon kemudian mengajak saya untuk turut serta saja, itu sudah merupakan kebahagiaan indah yang saya rasakan. Dan itu adalah wujud darma bakti saya selaku istri untuk selalu setia kepada suami kemanapun dan dimanapun berada serta apapun keadaanya.”

Sungguh senang dan bangga perasaan sang Jamadagni mendengar kata-kata dari istrinya Dewi Renuka. Sungguh nyata bila sang Dewi benar-benar cinta lahir batin terhadap dirinya. Walaupun kini mereka hanya berdua di tengah hutan dan jauh dari keramaian, cinta mereka tiada luntur apalagi tidak lama kemudian lahirlah putra-putra buah hati mereka di tengah kedamaian hutan itu. Dan disanalah Ramaparasu mulai melihat terangnya dunia !

Hingga suatu hari, terjadilah peristiwa yang mengubah segalanya. Mengubah kedamaian menjadi malapetaka !

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s