MENGENAL KEMBALI PAGELARAN WAYANG KULIT PURWA


by Bram Palgunadi on Tuesday, December 11, 2012 at 9:44am ·

Pagelaran wayang kulit purwa yang semarak dan sesekali juga mencekam, merupakan salah satu daya tarik. Tetapi pagelaran wayang kulit purwa masa sekarang, banyak yang melenceng jauh dari hakikatnya sebagai pagelaran wayang. Lalu ‘digantikan’ menjadi pagelaran lainnya, seperti campur-sari, dhang-dhutan, lawak, dan bahkan pagelaran wayangnya sendiri pelan-pelan tapi pasti, lalu berubah mengkerdil menjadi sekedar ‘pelengkap penderita’. Pagelaran wayang lalu kehilangan peran dan fungsinya sebagai media untuk merenungkan hikmah kehidupan. Seperti tampak pada gambar di atas, pagelaran wayang kulit purwa berubah menjadi ‘pagelaran pesindhen’; dan sederet pesindhen ini lalu dipajang, maaf, seperti layaknya barang dagangan.

Saat pertama kali mendengar kata ‘wayangan’ atau ‘karawitan wayangan’, kebanyakan orang berpikir, ini merupakan suatu pagelaran yang rumit, sukar, penuh ritual, mistis, dan memerlukan keterampilan dan pengalaman luar biasa untuk bisa memainkannya. Ini merupakan pandangan umum, yang lazim kita temukan pada kebanyakan orang di kalangan masyarakat awam. Benarkah demikian?

Sebagian dari pendapat ini, harus diakui saja, memang benar. Tetapi, ada sejumlah besar hal, yang mungkin saja tidak diketahui khalayak ramai, yang sebenarnya mencerminkan bahwa memainkan wayang kulit, khususnya wayang kulit purwa tidaklah seseram dan sesukar yang dibayangkan orang. Misalnya, adanya pandangan di kalangan masyarakat luas, bahwa gendhing-gendhing pengiring pagelaran wayangan, merupakan iringan yang maha sukar, dan karenanya lalu memerlukan keterampilan, kemampuan khusus, pemahaman, dan bahkan pengetahuan khusus; untuk bisa menjalankannya. Pandangan ini, tentu saja berakibat timbulnya pendapat, bahwa pagelaran wayang kulit purwa merupakan pagelaran yang maha sukar, dan karenanya lalu memerlukan ‘orang-orang pilihan dengan kemampuan dan keahlian khusus’. Pendapat inilah yang hendak ‘dibalikkan’. Karena nyatanya, sebuah pagelaran wayang kulit purwa tidaklah selalu merupakan suatu pagelaran yang maha sukar.

Jadi, pertanyaannya, sebenarnya apa saja yang merupakan ‘kebutuhan minimal’ (minimum requirement) untuk bisa melaksanakan suatu pagelaran wayang kulit purwa? Di bawah ini, dijelaskan secara singkat jawabnya. Juga termasuk berbagai renik-renik yang merupakan kekhasan pagelaran wayang kulit purwa.

Gendhing pengiring suatu pagelaran wayang kulit purwa

Pagelaran wayang kulit purwa memerlukan sejumlah rangkaian gendhing sebagai pengiring seluruh pagelaran. Dalam hal ini, kebutuhan minimal jenis gendhing yang harus dikuasai, dan sedapat-dapatnya dihafalkan; adalah: 1) ladrang, 2) ketawang, 3) lancaran, 4) ayak-ayak, 5) srepegan, dan 6) sampak. Meskipun demikian, keenam jenis gendhing ini, bisa diperas menjadi tiga jenis gendhing, yakni 1) ayak-ayak, 2) srepegan, dan 3) sampak. Karena suatu pagelaran wayang kulit purwa lazimnya dibagi atas tiga babak besar atau tiga pathet; yaitu 1) babak pathet nem, 2) babak pathet sanga, dan 3) babak pathet manyura; maka diperlukan sekurang-kurangnya tiga ayak-ayak, tiga srepegan, dan tiga sampak; masing-masing untuk memenuhi keperluan iringan untuk ketiga babak pagelaran wayang kulit purwa, yaitu pathet nem, pathet sanga, dan pathet manyura. Jadi ringkasnya, diperlukan penguasaan atas 3 × 3 gendhing = 9 gendhing.

Gendhing-gendhing utama yang harus dikuasai untuk bisa melakukan pagelaran wayang kulit purwa, adalah ayak-ayak, srepegan, dan sampak. Menggunakan ketiga jenis gendhing ini, seluruh pagelaran wayang kulit purwa sudah bisa dilaksanakan. Karena, pagelaran wayang kulit purwa terdiri dari tiga babak (pathet), maka jenis gendhing yang harus dikuasai adalah sebagai berikut.

  1. Iringan minimum untuk babak pathet nem, adalah: gendhing ayak-ayak nem, srepegan nem, dan sampak nem.
  2. Iringan minimum untuk babak pathet sanga, adalah: gendhing ayak-ayak sanga, srepegan sanga, dan sampak sanga.
  3. Iringan minimum untuk babak pathet manyura, adalah: gendhing ayak-ayak manyura, srepegan manyura, dan sampak manyura.

Jadi, kebutuhan minimum (dan bersifat wajib) untuk bisa mengiring suatu pagelaran wayang kulit purwa yang lengkap, sebenarnya hanyalah sembilan gendhing, yakni terdiri atas tiga gendhing yang berbeda untuk tiga pathet yang berbeda. Ya, hanya itu!

Di luar kesembilan gendhing tersebut di atas,  karena merupakan pagelaran wayang kulit purwa, maka haruslah dilengkapi dengan permainan Gendhing Talu Wayangan, yang juga dalam kondisi ‘minimum requirement’.

Tangga-nada yang digunakan

Secara tradisional, suatu pagelaran wayang kulit purwa diiringi memakai gendhing-gendhing ‘laras slendro’ (bertangga-nada slendro). Bahkan, di masa lampau, suatu pagelaran wayang kulit purwa hanya diiringi gendhing-gendhing laras slendro.[1] Karena itulah penyebutan babak (pathet) yang digunakan pada pagelaran wayang kulit purwa, mengacu pada penyebutan babak (pathet) laras slendro; yaitu pathet nem, pathet sanga, dan pathet manyura. Adapun iringan gamelan laras pelog, secara tradisional dulunya dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang kulit madya,[2] wayang gedhog, dan wayang beber. Namun, perubahan jaman rupanya besar pengaruhnya juga. Karenanya, pada jaman sekarang, pagelaran wayang kulit purwa umumnya menggunakan seperangkat gamelan laras slendro dan laras pelog. Meskipun demikian, penggunakan gendhing laras slendro, tetap sangat dominan dan merupakan mayoritas. Dalam pemahaman ini, pemakaian gendhing laras pelog pada suatu pagelaran wayang kulit purwa, dapatlah dikatakan hanya sebagai sisipan atau pelengkap semata.

Total theater

Pagelaran wayang kulit purwa, merupakan suatu pagelaran ‘total theater’, yang amat sangat berbeda dengan pertunjukan barat (Eropa). Pada pagelaran wayang kulit purwa, penonton berada di dua sisi panggung pagelaran, yakni di depan dan belakang; atau berada di depan dan belakang layar wayang. Selain itu, seluruh unsur yang ada di sekeliling dan di sekitar panggung pagelaran, merupakan bagian dari pagelaran wayang. Karena karakternya yang seperti itu, maka seluruh penonton, pemain, dan bahkan orang-orang yang berada di sekitar tempat pagelaran (misalnya orang-orang yang berjualan makanan, minuman, mainan anak-anak, cindera-mata, atau lainnya), termasuk seluruh lingkungannya; merupakan bagian langsung dari pertunjukannya.

Karena hal ini pula, maka penerapan ‘duduk lesehan’ menggunakan tikar (bukan kursi), merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi, guna membangun suasana total theater dan juga suasana tradisional. Suasana total theater ini akan semakin nyata, jika pagelaran dilakukan di tempat terbuka yang dilengkapi ‘tarub’ atau di pendhapa. Pagelaran yang bersifat ‘total theater’, menghasilkan suasana tidak formal, semarak, menyenangkan, penuh kebersamaan, bebas, dan santai (relax); dengan berbagai aktifitas lainnya berlangsung bersama-sama pagelaran wayang. Termasuk kegiatan makan, minum, berbincang, dan bahkan tidur.

Karakter garap gendhing dan karawitan wayangan  pada pagelaran wayang kulit purwa

Garap gendhing pada suatu pagelaran wayang kulit purwa, dapat dikatakan amat sangat berbeda, jika dibandingkan dengan garap gendhing yang dilakukan untuk pagelaran karawitan biasa atau iringan tari (beksan). Penjelasan selanjutnya, menjelaskan tentang hal ini.

Diawali dengan permainan gendhing Talu wayangan

Hanya pada pagelaran wayang dimainkan rangkaian Gendhing Talu Wayangan. Ini juga merupakan salah satu kekhasan pagelaran wayang kulit purwa. Gendhing Talu Wayangan, dimainkan sesaat sebelum pagelaran wayang dimulai. Gendhing Talu Wayangan, merupakan ‘ringkasan’ dari seluruh perjalanan hidup manusia sejak ia belum ada dan masih dalam bentuk mimpi indah orang tuanya, sampai ia lahir, menjadi remaja, menjadi dewasa, dan akhirnya kembali tiada, saat ia menghadap Sang Penguasa Jagat Raya. Sepersekian juta dari ringkasan cerita perjalanan hidup manusia itulah, yang nantinya akan dipagelarkan selama semalam suntuk.

Menerapkan permainan ‘kosek wayangan’

Salah satu karakter khas garap karawitan yang hanya ada di karawitan wayangan, adalah penerapan garap ‘kosek wayangan’, yang diperankan oleh ricikan kendhang. Kekhasan garap kosek wayangan, terletak pada pengaturan kecepatan irama/laya yang relatif lebih cepat daripada laya tamban, tetapi berada di bawah laya sesegan. Dalam beberapa hal, laya ini sering disalah-artikan dan di sebut sebagai irama/laya tanggung. Sebenarnya, laya/irama kosek wayangan bukanlah laya/irama tanggung. Karena sebutan ‘kosek wayangan’ tidak hanya berkait erat dengan kecepatan permainan (irama/laya), melainkan dengan pola permainan kendhang yang sangat khas, juga digunakannya ‘kecer wayang’ dan eksploitasi suara ‘keplok’ para pradangga. Pengaturan laya/irama permainan gendhing wayang, menerapkan ‘irama kosek’ yang sangat khas wayangan.

Secara ringkas, irama kosek adalah suatu garap gendhing yang menerapkan kecepatan (laya/irama) tertentu sedemikian rupa, sehingga selama permainannya, gendhing dapat dilengkapi permainan irama ‘keplok’ (tepukan tangan) atau ‘kecer’. Laya/irama kosek, merupakan suatu laya/irama yang berada di antara irama/laya seseg dan tamban (lambat). Indikasi bahwa irama kosek sudah tepat penerapannya, adalah saat dilengkapi ‘keplok’ atau bunyi ‘kecer’, pradangga-nya merasa nyaman dan enak terdengar di telinga. Kecepatan laya/irama kosek wayangan, kira-kira setara dengan irama/laya ciblon, dengan dominasi suara permainan kendhang yang sangat khas.

Memakai ‘kecer wayang’ dan ‘keplok’ sepanjang malam

‘Kecer wayang’ merupakan salah satu ricikan gamelan yang umumnya hanya digunakan pada pagelaran wayangan, dan berperan sebagai kelengkapan permainan yang menerapkan laya/irama kosek wayangan. Kecer wayang seringkali juga dilengkapi dengan ‘keplok’. Dalam sejumlah kasus, ‘keplok’ sering menggantikan peran kecer wayang. Misalnya, jika ricikan kecer wayang tidak tersedia pada gamelan yang digunakan sebagai pengiring pagelaran wayang. Penggunaan kecer wayang dan/atau keplok, lazimnya dimainkan para pradangga hampir di seluruh waktu pagelaran yang menerapkan pola permainan ‘kosek wayangan’ dan ‘ciblon’; kecuali pada laya/irama tamban, saat sirep, janturan, sampak; dan pada garap yang berhubungan dengan ‘tlutur’ serta ketawang.

Rangkaian gendhing yang berubah-ubah secara dinamis

Tidak seperti pada pagelaran karawitan biasa, yang lazimnya menerapkan rangkaian gendhing yang teratur dan menerapkan irama/laya yang umumnya tamban. Rangkaian gendhing yang dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang kulit purwa lazimnya menyesuaikan diri dengan keperluan pagelaran. Termasuk dimungkinkan mengganti, menghentikan, atau memindahkan gendhing ke gendhing lainnya secara tiba-tiba. Dalam sejumlah hal, perpindahan atau pergantian gendhing bahkan dimungkinkan dan boleh dilakukan, meskipun gendhing yang sedang dimainkan belum selesai (belum mencapai akhir permainan atau belum sampai pada gong).

Keprak dan gedhog dhalang sebagai pemberi aba-aba utama

Pada pagelaran karawitan, hampir seluruh aba-aba diberikan oleh ricikan kendhang. Sebaliknya, pada pagelaran wayang kulit purwa, ‘gedhog’ dan ‘keprak’ memegang peran yang amat sangat dominan, utamanya dalam hal sebagai pemberi aba-aba dan perintah tertentu. Sejumlah tanda atau aba-aba yang diberikan menggunakan gedhog atau keprak, lazimnya merupakan bagian awal dari tanda atau aba-aba yang diberikan oleh kendhang. Dalam pengertian ini, hampir semua tanda atau aba-aba yang diberikan oleh kendhang, bisa dilakukan dan digantikan perannya oleh gedhog dan keprak; termasuk pengaturan irama/laya, pengaturan kecepatan permainan, tanda berhenti, tanda perpindahan, tanda mulai memainkan, tanda menghentikan permainan, tanda mengubah pola permainan karawitan menjadi irama rangkep atau sebaliknya, tanda pembicaraan/dialog selesai, tanda sirepan selesai, tanda meminta sesegan, tanda selesai janturan, tanda penghentian dalam pola sesegan atau gropak, tanda mengubah pola permainan menjadi kebar atau kiprah, dan sebagainya.

Tanda atau aba-aba yang merupakan penggalan atau potongan tanda atau aba-aba yang diberikan kendhang, lazimnya merupakan bagian depan tanda atau aba-aba kendhang. Dalam sejumlah kasus, tanda atau aba-aba berupa suara gendhog dan/atau keprak, bisa juga dilengkapi dengan suara/vokal dhalang, yang lazimnya dalam bentuk ‘kombangan’.

Sesegan dan sirepan

Hanya di pagelaran wayang ada penerapan pola sesegan dan sirepan pada garap karawitannya. Sesegan, lazimnya digunakan sebagai pertanda sudah selesainya penataan wayang di layar (geber), dan akan segera dilanjutkan dengan ‘janturan’, yang lazimnya merupakan narasi dhalang yang menceritakan sesuatu suasana, kondisi, atau cerita. Janturan dilaksanakan setelah silakukan sirepan.

Suwuk sesegan atau suwuk gropak

Adalah pola penghentian permainan gendhing yang dilakukan dalam kecepatan tinggi, menerapkan tabuh sora (gamelan dibunyikan atau ditabuh sangat keras), serta penghentian yang dilakukan secara mendadak (tiba-tiba). Pola ini, biasanya hanya dikenal di permainan karawitan wayangan.

Garap kebar dan kiprah dengan surak dan senggakan

Garap karawitan wayangan yang menerapkan garap kebar atau kiprah, biasanya dilengkapi dengan surak dan senggakan yang riuh; bahkan bisa saja penuh dengan teriakan. Hal ini, hanya ada di karawitan wayangan.

Garap kebar dan kiprah dalam laya/irama seseg

Garap karawitan wayangan saat kebar atau kiprah, biasanya jauh lebih cepat laya/iramanya, jika dibandingkan dengan pada pagelaran karawitan biasa atau jika dibandingkan dengan pada pagelaran tari (beksan).

Sirepan yang sangat tamban

Pada saat sirepan, hanya ricikan gender barung, rebab, gender panembung (slenthem), kendhang, kethuk, kenong, kempul, dan gong; yang dimainkan dalam irama/laya yang sangat lambat. Ricikan/instrumen lainnya tidak dibunyikan. Seluruh ricikan yang tetap dibunyikan ini, biasanya dimainkan dalam pola irama/laya yang relatif sangat tamban (sangat lambat). Sirepan lazimnya diterapkan saat dhalang sedang melakukan ‘janturan’.

Semua pendukung pagelaran menghadap layar wayang

Pada pelaksanaan pagelaran wayang kulit purwa tradisional, seluruh pradangga, pesindhen, wiraswara, dan dhalang; duduk menghadap layar wayang (geber). Pertimbangan utamanya adalah, bahwa ini merupakan pagelaran wayang kulit purwa, dan sama sekali bukan pagelaran sindhen, wiraswara, pradangga, atau lainnya.

Dhalang adalah tokoh sentral dalam pagelaran wayang kulit purwa

Tokoh sentral dan utama dalam suatu pagelaran wayang kulit purwa, adalah dhalang. Karenanya, seharusnya tidak boleh dan tidak selayaknya ada orang lain yang dalam pagelaran wayang kulit purwa bertindak menggantikan peran dan fungsi dhalang, meskipun hanya sejenak atau hanya sebentar; termasuk pagelaran campur-sari, dhagelan, lawak, dhang-dhutan, penyanyi, atau lainnya. Jika dhalang sampai bersedia digantikan perannya sebagai tokoh sentral, meskipun hanya sebentar atau beberapa saat, maka hal ini sama saja dengan merendahkan martabat, kehormatan, dan profesinya.

Mengeksploitasi suasana dan emosi

Pada pagelaran wayang kulit purwa, suasana memegang peran yang sangat penting. Karenanya, mengeksploitasi suasana (oleh dhalang) menjadi salah satu faktor yang memegang peran sangat penting, termasuk ‘mempermainkan emosi’ penonton.

Pagelaran delapan jam

Pagelaran wayang kulit purwa, jika dilaksanakan secara lengkap dan tradisional, akan memakan waktu semalam suntuk (atau sehari suntuk), selama kurang-lebih delapan jam. Yaitu, dari sejak sekitar jam sembilan malam (atau jam sembilan pagi), sampai sekitar jam empat subuh hari berikutnya (atau jam empat sore). Namun, harap diketahui, bahwa lama seluruh pagelarannya sebenarnya bisa lebih dari delapan jam, jika dilaksanakan secara lengkap. Jika pagelaran wayang kulit purwa dilakukan pada malam hari, pagelaran bisa diawali dan dilengkapi dengan permainan ‘gendhing sore’ atau ‘gendhing pahargyan tamu’, lalu dilanjutkan dengan pagelaran ‘karawitan wayangan’, dan pagelaran Gendhing Talu Wayangan.

Pembagian waktu berdasar pathet

Waktu pagelaran wayang kulit purwa, dibagi menjadi tiga babak utama, yaitu:

  1. Pathet Nem
  2. Pathet Sanga
  3. Pathet manyura

Secara ringkas, dapat dikatakan bahwa pembagian waktu pada pagelaran wayang kulit purwa yang dilaksanakan semalam suntuk, adalah a) waktu awal (awal malam hari), b) waktu sekitar tengah malam, dan c) waktu menjelang pagi hari. Pembagian waktu ini, berlaku tidak saja untuk pagelarannya, tetapi juga berlaku untuk pemilihan gendhing yang dipergunakan selama pagelaran.

Meskipun demikian, jika dimainkan secara lengkap, maka urutan pathet pada suatu pagelaran wayang kulit purwa adalah sebagai berikut.

  1. Pathet Nem
  2. Pathet Lindur
  3. Pathet Sanga
  4. Pathet Nyamat
  5. Pathet Manyura

Sebagai catatan, pada pagelaran wayang kulit purwa, Pathet Lindur dan Pathet Nyamat tidak selalu digunakan.

Mengintegrasikan berbagai hal

Pagelaran wayang kulit purwa, pada dasarnya mengintegrasikan banyak hal, antara lain bahasa, sastra, komunikasi, musik iringan (karawitan wayangan), cerita, narasi, skenario, suasana psikologis, termasuk emosi penonton, keterampilan, kemampuan olah vokal, dialog, tembang (nyanyian), syair, serta sudah barang tentu juga tari dan gerak wayang (sabetan).

Menyenangkan, semarak, dan mencekam

Pagelaran wayang, merupakan suatu pagelaran yang menyenangkan banyak pihak, tidak hanya penontonnya, tetapi juga para pendukung pagelaran dan semua orang yang berada di sekitarnya. Ini merupakan salah satu dampak dari pendekatan ‘total theater’ pada pagelaran wayang kulit purwa. Meskipun demikian, suatu pagelaran wayang kulit purwa juga bisa merupakan suatu pagelaran yang ‘mencekam’ dan mempengaruhi emosi penontonnya. Misalnya, jika cerita dan drama yang ditampilkan sedemikian memikat penontonnya.

Media untuk merenungkan makna kehidupan

Pagelaran wayang kulit purwa, dapat berfungsi sebagai media refleksi kehidupan nyata manusia. Hal inilah yang menjadi penyebab mengapa seseorang yang pernah sekali saja menikmati pagelaran wayang kulit purwa, jika ia mengerti dan memahami isi cerita dan suasananya, maka ia akan cenderung ‘kecanduan’ dan merindukan untuk kembali menonton pagelaran wayang.

Pada pagelaran wayang kulit purwa, apa yang kita lihat di layar wayang, sebenarnya bukanlah pagelaran yang sesungguhnya. Sebaliknya, pagelaran yang sesungguhnya sebenarnya ada di alam imajinasi kita. Adapun apa yang kita lihat di layar wayang, sebenarnya lebih berperan sebagai pemicu imajinasi kita. Sedangkan tokoh-tokoh wayang tertentu yang ditampilkan di layar wayang, seringkali oleh penontonnya merefleksikan dan dipersonifikasikan sebagai dirinya. Demikian pula peristiwa yang diceritakan. Karena itu pula, maka hubungan emosional antara tokoh yang ditampilkan dengan kita sebagai penontonnya, bisa menjadi amat sangat erat, dan bahkan bisa membawa kita seakan-akan sebagai tokoh yang sedang ditampilkan itu.

Bisa dimainkan dalam tingkat kerumitan dan kesulitan yang berbeda

Melakukan pagelaran wayang kulit purwa, bisa dilakukan dalam bentuk yang amat sangat sederhana, dan secara bertahap menjadi semakin sukar dan semakin rumit. Semua itu, bisa dilakukan sesuai dengan tingkat pemahaman dan tingkat penguasaannya. Artinya, pada tahap belajar, bisa saja pagelaran wayang dilaksanakan dalam bentuk yang amat sangat sederhana dan mudah. Hal inilah yang serinkali tidak disadari, baik oleh pelatih maupun oleh siswa.

Pagelaran wayang kulit purwa, juga bisa dimainkan dalam penggal waktu yang relatif amat sangat pendek. Misalnya, suatu pagelaran wayang kulit purwa bisa dimainkan dalam pola penggal waktu selama satu jam atau bahkan kurang dari satu jam. Hal ini, biasanya diterapkan bagi mereka yang sedang dalam tahap belajar, atau pagelaran wayang kulit purwa yang dilaksanakan dalam rangka peragaan.

Seperti telah disinggung selintas di awal bahasan, suatu pagelaran wayang kulit purwa yang dimainkan secara lengkap sekalipun, sebenarnya bisa dimainkan hanya dengan tiga jenis gendhing; yaitu ayak-ayak, srepegan, dan sampak. Karena itulah, maka belajar melakukan pagelaran wayang kulit purwa dapat dikatakan tidaklah sesukar yang dibayangkan orang.

_____________________________________________

[1]      Pagelaran wayang kulit purwa versi Jawa yang boleh dikatakan masih asli, justru dapat dilihat pada pagelaran wayang kulit purwa versi Bali, yang diiringi ricikan gender laras slendro. Sebagai informasi, pagelaran wayang kulit purwa versi Jawa, pada masa lampau berkembang pada masa perkembangan agama Hindhu dan Buddha; sebagai bagian dari pelaksanaan ritual adat dan kepercayaan. Tetapi setelah agama Islam masuk dan berkembang di Pulau Jawa, sebagian penduduk yang beragama Hindu, beserta berbagai bentuk kesenian asli Jawa, termasuk pagelaran wayang kulit purwa, para pegiat dan masyarakat pendukung keseniannya, ‘menyelamatkan diri’ ke arah timur dan menyeberang ke Pulau Bali. Sebagai catatan, bentuk asli wayang kulit Jawa pada masa awal, sama dengan dengan bentuk wayang kulit versi Bali (yang sampai sekarang masih bisa dilihat dan relatif tidak banyak berubah bentuknya).

[2]     Pagelaran wayang kulit madya, lazimnya membawakan cerita wayang yang didasarkan atas berbagai cerita yang berkembang seusai Perang Barata-Yudha. Batas awal yang bisa dikatakan sebagai ‘bagian transisi’ antara wayang kulit purwa dan wayang kulit madya, adalah pagelaran wayang yang menceritakan episode setelah Pandhawa memenangkan Perang Barata-Yudha. Misalnya, cerita ‘Parikesit Jumeneng Nata’. Wayang Madya adalah wayang kulit yang diciptakan oleh Mangkunegara IV sebagai penyambung cerita Wayang Purwa dengan Wayang Gedog. Cerita Wayang Madya merupakan peralihan cerita Purwa ke cerita Panji. Salah satu cerita Wayang Madya yang terkenal adalah cerita Anglingdarma. Wayang madya tidak sempat berkembang di luar lingkungan Pura Mangkunegaran. Cerita Wayang Madya menceritakan sejak wafatnya Prabu Yudayana sampai Prabu Jaya-Lengkara naik tahta. Cerita Wayang Madya ditulis oleh R. Ngabehi Tandakusuma dengan judul Pakem Ringgit Madya yang terdiri dari lima jilid, dan tiap jilid berisi 20 cerita atau lakon. Wayang madya (Jawa) adalah wayang yang menggunakan unsur ‘cerita sesudah zaman purwa’. Cerita itu mengisahkan para raja Jawa yang dianggap keturunan Pandawa. Sementara itu wayang gedog, wayang klitik, dan wayang beber (ketiganya dari Jawa), juga wayang gambuh dan wayang cupak dari Bali, melakonkan cerita panji.

Pagelaran wayang kulit purwa di masa lampau. Seringkali merupakan bagian dari kehidupan tradisi dan ritual masyarakat.

Lukisan suatu pagelaran wayang kulit purwa di masa lampau. Menyenangkan dan penuh kenangan.

Suatu pagelaran wayang kulit purwa di pedalaman. Penuh kenangan dan mengingatkan dari mana kita dulu berasal…

 

Melihat pagelaran wayang kulit purwa, seakan seperti melihat kembali seluruh kehidupan kita….

 

Bayang-bayang wayang, refleksi seluruh kehidupan kita saat kita masih berada di alam janaloka…
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s