Nyi Condrolukito Waranggana Dari Yogyakarta


Sumber : tembi.org

Lahir pada tanggal 23 April 1920 di desa Pogung, Sleman Yogyakarta. Nama kecilnya Turah. Ia berguru tentang nyanyi-menyanyi jawa pada bapaknya, mulai dari mocopatan, sekar-sekar tanpa iringan lalu juga tembang-tembang. Turah pertama kali dikenal suara “emasnya” oleh Lurah Laras Sumbogo yang sedang berburu burung di seputar rumah Turah di desa Pogung. Sejak saat itu Turah latihan di Joyodipuran. Tiga hari latihan disitu lalu dibawa ke Kepatihan dan oleh Kanjeng Pangeran Haryo Danurejo ia langsung diberi nama Penilaras. Peni artinya bagus, laras artinya pas. Pada usia 18 tahun Penilaras dianjurkan oleh istri Kanjeng Patih untuk ikut Kanjeng Sultan Hamengkubuwono VIII yang merupakan adiknya. Ahkirnya ia dibawa ke kraton. Setelah itu ia sering melantunkan kidung dengan suara emasnya. Kemudian Penilaras diberi nama baru Padasih.

Jalan menuju suksespun terbuka mulus. Hingga akhirnya dipersunting oleh penari kraton Condrolukito. Nyi Condrolukito begitu fanatik dengan kebudayaan jawa, sebab budaya itu baginya sumber keluhuran, keagungan dan keindahan dan itu semua menimbulkan ketentraman. Ketenangan batin itu yang menjadi utama dalam kehidupannya. Pada nada rendah dan tinggi suara Nyi Condro tetap dandangCengkok dan wiledannya khas Nyi Condro. Dia peka terhadap ‘saleh nada‘ (kalimat lagu) yang jatuh pada nada. Menurut Leslie, salah seorang anak didiknya dari Amerika berpendapat, bahwa Nyi Condro mempunyai gaya seni suara yang unik dan kata-kata yang diciptakannya mempunyai arti filsafat yang tinggi. Karena itulah Leslie berminat mempelajari ilmu tembang darinya.

Alunan suaranya tidak saja digemari oleh orang-orang yang berasal dari suku Jawa, tetapi juga orang-orang luar jawa, mereka dapat menikmati suara Nyi Condrolukito dan mereka sangat kagum akan kelihaian Nyi Condrolukito dalam melantunkan lagu/tembang. Dalam usia yang sudah lanjut, suara Nyi Condrolukito tetap bersih, bening, agung, dan berwajah tenang dengan pandangan yang cemerlang. Ia mengatakan bahwa hal itu didapatkannya dari keselarasan dan keseimbangan tata susila kehidupannya yang diandalkannya dari seperangkat gamelan jawa.

Dalam masa hidupnya Nyi Condrolukito benar-benar telah memberikan yang terbaik bagi dunia seni budaya Jawa, selama lebih dari 30 tahun ia telah banyak menghasilkan karya, lebih dari 200 rekaman kaset, dua diantaranya piringan hitam.

Didit P Daladi

About these ads

One thought on “Nyi Condrolukito Waranggana Dari Yogyakarta”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s