KAS BIMO BUNGKUS LIVE (ringkasan cerita Kelahiran BIMO)


Jejer Ngastina duhkitaning Prabu Pandu lan Dewi Kunti jalaran lahire ponang jabang bayi kang awujud bungkus. Tan ana sanjata kang tumawa kanggo mbedah bungkus. Kurawa uga melu cawe-cawe arsa mecah bungkus, sanadyan amung lelamisan, bakune arsa nyirnaaken si bungkus. Wisiking dewa sang bungkus den bucal ing alas Krendawahana..

Seluruh kerajaan Astina sangat berduka karena kelahiran anak jabang bayi Prabu Pandu dan Dewi Kunti yang berwujud terbungkus. Tak ada senjata yang mampu untuk memecah bungkus tersebut. Kurawa yang juga ikut membantu memecah bungkus tersebut – walaupun dengan tujuan berbeda ingin melenyapkan sang jabang bayi – juga tidak sanggup melakukannya. Sampai akhirnya, terdapat wangsit dewata yang meminta bayi bungkus tersebut dibuang di hutan Krendawahana

Ing pertapan Wukir Retawu Bagawan Abiyasa kasowanan Raden Permadi kang kaderekaken repat punakawan.
“Kanjeng Eyang, kadi pundi nasibipun Kakang Bungkus, sampun sawetawis warsa mboten wonten suraos ingkang sae, bab menika Eyaang, andadosaken duhkitaning Kanjeng Ibu Kunti…”

Di pertapaan wukir retawu Begawan Abyasa kedatangan Raden Permadi yang dikuti oleh punakawan.
“Kakek bagaimana nasib kakak bungkus, sudah sampai beberapa tahun tak ada kabar baik mengenai ini eyang, menjadikan dukanya ibu Kunti”

Tartamtu Sang Winasis kang pancen luber ing pambudi sampun pirsa apa kang dadi lakon.
“Putuku ngger, Permadi, mangertiya jer kakangmu nembe nglakoni karmane, ing tembe kakangmu Si Bungkus bakal dadi satriya utama, lan bakal oleh apa kang sinebut wahyu jati…”

Tentu saja sang Begawan yang memang dipenuhi oleh budi luhur sudah mengetahui apa yang akan terjadi.
“Cucuku ngger Permadi, mengertilah kalo kakakmu sedang menjalani karmanya. Di kemudian hari kakakmu si bungkus akan jadi ksatria utama dan akan mendapat apa yang disebut sebagai wahyu jati”

Anane Si Bungkus ndadekake gegering suralaya. Bumi gonjang ganjing kadya binelah, samodra asat.
Ing Suralaya, Batara Guru nimbali Gajahsena, putra sang batara kang awujud gajah, kinen mecah si bungkus saengga dadi sejatining manungsa. Sang Guru ugi angutus Dewi Umayi kinen nggladhi kawruh babagan kautaman marang si bungkus.

Adanya bayi bungkus tersebut menjadikan gegernya suralaya. Bumi gonjang ganjing bergetar seperti dibelah. Lautan menjadi kering.
Di suralaya Batara Guru memanggil Gajah Sena putra sang batara yang berwujud gajah untuk memecah si bungkus sehingga menjadi manusia yang sejati. Sang guru juga mengutus Dewi Umayi untuk melatih tentang keutamaan kepada si bayi bungkus.

Purna anggennya peparing ajaran marang si bungkus, Dewi Umayi aparing busana arupa cawat bang bintulu abrit, ireng, kuning, putih, pupuk, sumping, gelang, porong, lan kuku Pancanaka.

Setelah memberikan pengajaran kepada si bungkus, Dewi Umayi memberikan busana berupa cawet bang bintulu merah, hitam, kuning, putih, pupuk, sumping, gelang, porong dan kuku Pancanaka.

Salajengipun, Gajahsena mbuka bungkus. Pecahing bungkus dados sapatemon kekalihipun, kagyat dados lan perangipun. Binanting sang Gajahsena. Sirna jasad sang gajah. Roh lan daya kekiatanipun manjing jroning angga sang bungkus.

Selanjutnya Gajahsena dengan kekuatan yang dimilikinya membuka bungkus sijabang bayi. Namun dengan pecahnya bungkus, sang bayi menjadi marah karena ia merasa disakiti, maka terjadilah perkelahian yang dahsyat diantara keduanya. Pertempuran tersebut berakhir dengan kalahnya Gajah Sena. Namun bersamaan dengan sirnanya jasad sang Gajah, seluruh roh dan kekuatannya merasuk kedalam badan si bayi bungkus.

Praptene Betara Narada.
Si Bungkus tumakon marang Sang Kabayandewa, “Heemmm, aku iki sopo?”

Kemudian datanglah Betara Narada. Si bungkus kemudian bertanya pada Sang Kabayadewa,”Heeem, siapakah aku ini?”

“Perkencong, perkencong waru doyong, ngger, sira kuwi sejatine putra nomor loro ratu ing Amarta Prabu Pandudewanata. Sira lahir awujud bungkus, lan kersaning dewa sira kudu dadi satriya utama…, lan sira tak paringi tetenger Bratasena ya ngger…”

“Anakku,  kamu itu sesungguhnya adalah putra nomor dua dari Raja Dimarta Prabu Pandu Dewanata. Kamu lahir berwujud bungkus, dan kehendak Dewata kamu akan menjadi ksatria utama, dan untuk itu engkau kuberi nama Bratasena ..”

Bratasena kemudian hari menjelma menjadi seorang yang gagah dan menakutkan karena badannya yang tinggi besar dengan suara yang menggelegar.

Sampai suatu ketika ..

Rawuhipun Ratu saking Tasikmadu kang nyuwun senjata pitulungan marang Bratasena kinen nyirnakaken raja raseksa aran Kala Dahana, Patih Kala Bantala, Kala Maruta lan Kala Ranu. Para raseksa sirna. Sekakawan kekiatan saking raseksi wau nyawiji marang Raden Bratasena, inggih punika kekiatan Geni, Lemah, Angin lan Banyu.

Datanglah Ratu dari Tasikmadu yang meminta pertolongan kepada Bratasena untuk melenyapkan raja raksasa bernama Kala Dahana. Patih Kala Bantala, Kala Maruta dan Kala Ranu. Dengan kekuatannya Bratasena mengalahkan para raksasa tersebut. Mereka sirna dan semua kekuatan para raksasa tadi menyatu dalam tubuh Raden Bratasena; itulah kekuatan api, tanah, angin dan air.

—————————
Tancep Kayon

Kisah atau cerita diatas saya ambil dari bharatayudha.com

untuk dapat menikmati Audio lakon Bimo bungkus yang dibawakan Ki Anom Suroto live tunggu tanggal mainnya.

Salam

PPW Jatim

About these ads

3 thoughts on “KAS BIMO BUNGKUS LIVE (ringkasan cerita Kelahiran BIMO)”

  1. Sangat disayangkan lakon Bimo Bungkus yang apik namun ketika dipentaskan tidak bisa utuh seperti yang tertulis di atas. Kini waktu semalam sebagian besar habis hanya untuk limbukan dan goro-goro. Jika dalang senior yang seharusnya bisa menjadi pandom atau panutan berperilaku seperti itu lantas kepada siapa dalang-dalang generasi penerus harus berguru?

  2. Nyuwun sewu njih pak Budi cerita ringkas diatas hanya saya ambil dari bharatayudha.com dan tidak sama sekali dari hasil ringkasan rekaman live yang akan kami sharing…karena sifatnya ringkasan dan tidak utuh mungkin lebih penasaran atau lebih tau lengkapnya dapat didengarkan dulu hasil dari convert Audio livenya nanti, dan lebih bijak tidak ada yang saling menghakimi siapapun
    Nuwun sewu mbok bileh anggen kawulo matur kirang nuju prono ing penggalih kadhang – kadhang PPW sedoyo, kulo Nyuwun agunging samudro pangaksami.

  3. Kebetulan lakon ini beberapa minggu yang lalu dipentaskan oleh Ki Anom Suroto dan putranya Ki Bayu Aji di Taman Mini Jakarta dan siar ulang oleh radio Kayu Manis Jakarta. Saya mengikuti sejak sore. Itulah kesimpulan saya setelah mendengar. Cerita Bima Bungkus yang apik dan penuh teladan tidak bisa ditampilkan secara utuh, terdesak oleh hiburan. Saya hanya ngudarasa, mungkin masyarakat kita saat ini hanya butuh hiburan semata tidak butuh petuah atau nasehat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s