Slamet Gundono, Wayang Hanya Ilalang


http://yudhitc.wordpress.com/2009/07/05/slamet-gundono-wayang-hanya-ilalang/

Oleh : Putu Fajar Arcana & Ardus M Sawega

Slamet Gundono

Slamet Gundono (43) bukan termasuk dalam ukuran orang biasa. Selain tubuhnya yang besar, sejak tahun 1999 ia mengembangkan Sanggar Wayang Suket di Surakarta. Di komunitas ini ia melakukan ”revolusi” terhadap dunia wayang dan pedalangan yang oleh banyak pihak dinilai sudah lama mandek. Wayang suket ”temuannya” berada antara dunia teori teater Barat dan tradisi pewayangan Timur.

Selasa (16/6) siang itu, setelah bersalaman, Slamet Gundono menuju sebuah pilar bangunan tempat ia bersama anggota Sanggar Wayang Suket biasa berlatih. Setelah menjatuhkan tubuhnya, melonjorkan kaki, lelaki kelahiran Tegal, Jawa Tengah, ini bersandar. Ia tampak leluasa dan rileks. ”Maaf, tadi habis ke bengkel, mobil saya tabrakan waktu di Jakarta,” katanya memulai cerita. Beberapa pekan lalu, ia memang mengikuti tur pentas dua kota Kelompok Pappa Tarahumara asal Jepang di Yogyakarta dan Jakarta.

Bahkan, dalam pesan singkat lewat ponsel, sebelum kami tiba di rumahnya, Slamet Gundono mengabarkan, ”Tunggu 15 menit, saya keluar beli cream buat anak.”

Dua peristiwa tadi barangkali cukup menjadi gambaran aktivitas keseharian Gundono sebagai seniman, suami, dan ayah seorang putra bernama Nandung Albert Slamet Saputra (4). Kata Kiki (istri Gundono kemudian), saban hari Nandung sudah menghabiskan sekitar 400 gram susu nabati. ”Tuh lihat, sudah tampak tanda-tanda gemuknya,” tambah Gundono.

Banyak orang memandang aneh pada dalang nyeleneh ini. Saat pentas di Taman Ismail Marzuki Jakarta bersama Pappa Tarahumara, misalnya, seorang siswa berbisik kepada temannya, ”Itu gitar yang kekecilan atau orangnya yang kebesaran.” Dalam setiap pentas, Gundono tak bisa dipisahkan dari mandolin, gitar kecil yang selalu ia petik sembari melantunkan suluk-suluk wayang.

Anda kok selalu muncul di pentas dengan menyandang mandolin, kenapa tidak rebab, misalnya, yang lebih Jawa?

Oh, itu ada sejarahnya. Itu gitar punya teman, terbuat dari tripleks yang harganya Rp 20.000, mungkin sekarang sudah enggak keluar lagi. Saya malah berpikir, bisa enggak ya gitar kecil ini dimainkan cuma di bagian ujungnya saja tanpa harus memilih grip sampai ke pangkalnya. Akhirnya saya menemukan nuansa Arab, China, India, Banyuwangi, dangdut, blues di situ. Saya setel sendiri. Jadi, kalau ada teman-teman ahli gitar coba memainkannya, pasti mereka bingung karena ini setelan Slamet Gundono…. (sembari terkekeh- kekeh). Mandolin ini tidak tergantikan, sudah robek-robek saya lapisi plakban. Dan alat ini terus menjadi inspirasi saya sampai sekarang.

Bukan eksperimen

Banyak pengamat bilang, Anda bereksperimen menggabungkan teori teater Barat dengan tradisi dunia pedalangan di Timur?

Saya tidak pernah bermaksud membuat eksperimen. Saya coba memikirkan konsep konsentrasi lingkaran kecil dan menengah dari Stanilavsky (peletak dasar- dasar teater modern) kalau di wayang ada blencong, hubungannya apa dengan intensitas dan ruang pada wayang itu. Sampai akhirnya saya temukan, blencong itu sebagai jagat pakeliran, punya imajinasi yang kuat. Tetapi kemudian saya bertanya lagi, kalau ada jagat lain, apakah tidak ada imajinasi? Itu jadinya karya macam-macam, ada Wayang Dimensi, ada Wayang Suket….

Sebenarnya saya selalu melihat wayang dengan segala sejarahnya, sama teater Barat yang memang soal ruang gila-gilaan itu. Saya tak bermaksud menyatukan dalam pentas-pentas saya, saya hanya melihat dua-duanya, kemudian saya membuat sesuatu di antara dua-duanya itu. Saya tidak menjadikan sanggar ini sebagai laboratorium….

Termasuk penggunaan suket sebagai wayang itu juga bukan dalam ranah eksperimen?

Wayang suket itu ada di mana- mana di Jawa, saya temukan di Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, dan Banyumas. Para perajin wayang ini mengerjakannya secara halus sekali. Tetapi itu semua perwujudan dari karakter yang sudah ada dalam wayang kulit. Wayang suket saya beda.

Bedanya? Kan sama rumputnya?

Semua berawal dari liburan ke Riau. (Slamet Gundono kemudian bercerita, setamat STSI Surakarta, ia diminta liburan oleh kakaknya yang bekerja di sektor kehutanan di Riau. Dalam dua bulan, di situ ia melihat para pekerja Jawa mengangkut kayu- kayu, ”Ternyata hidup ini keras ya, saya lalu buat sulukan yang pertama dalam sejarah wayang suket, judulnya Kelingan lamun Kelangan.” Kira-kira artinya, teringat tetapi kehilangan…. Slamet lalu menembang, nyanyiannya menyayat…. Sama sekali tak ia sangka jika kemudian kakaknya memintanya mendalang di tengah-tengah komunitas Jawa perantauan di Riau).

Kebetulan di dekat sanggar lukis kakak saya itu ada padang ilalang yang luas sekali. Di situ juga tumbuh rumput gajah, ya saya potong-potong saja, yang penting ada kepala dan tubuhnya melendug gitu. Jadi saya ciptakan wayang suket, tidak seperti tampaknya di Jawa. Di situ lalu saya mendalang ngomongkan daya tahan hidup, pertaruhan nyawa mencari kerja. Jadi dalam kondisi terdesak saya kembali pada ilalang….

Bagaimana Anda memberi karakter pada bentuk-bentuk wayang sederhana itu?

Wayang suket saya hanya sebatang ilalang. Werkudara ya kayak itu, Arjuna ya semono (begitu), Bagong ya juga begitu. Saya biarkan orang menemukan Werkudaranya sendiri, Wisanggeninya sendiri. Konsep suket saya, saya tidak ingin mendominasi imajinasi. Seluruh suket saya sama. Makanya, kalau ada orang tanya, ini Karna kok kayak gini, sebenarnya saya sendiri enggak ngerti, tetapi kemudian ketika ada kontribusi imajinasi, orang itu yakin bahwa itu Karna. Makanya karakter Karna di wayang kulit tidak ada dalam konsep suket saya.

Saya tidak mengambil wayang suket yang sudah ada, saya juga tidak mau mengklaim bahwa suket ini saya yang buat, tetapi kalau pertunjukannya itu saya….

Selain rumput, Anda juga menjadikan benda-benda lain jadi wayang.

Memang pada akhirnya saya menemukan tak hanya suket, seluruh benda yang punya elemen tentang manusia, seperti cengrong (cetok), itu bisa kayak hidung. Rendra bilang, wayang ini apa pun, suket bukan bentuk karakter yang utuh, tetapi sebagian dari elemen-elemen imajinasi. Sebuah batu yang bengkok, saya bisa jadikan Bisma… haha-ha (tertawa terkekeh-kekeh).

Bagaimana Anda menghancurkan karakterisasi yang demikian lekat di benak para penikmat wayang di Jawa dengan bentuk- bentuk baru itu?

Memang masyarakat Jawa sudah ribuan tahun meyakini sebuah karakter. Tetapi ketika saya pakai batok (kelapa) untuk gambarkan Bima, mereka tersenyum, malah-malah di kampung-kampung penonton terkekeh-kekeh karena bisa banyak sekali tafsir. Menurut saya, karena ada kristalisasi karakter, kadang-kadang orang butuh pemecahan (revolusioner). Orang yang berwibawa harusnya kayak SBY (menggerakkan tubuh untuk menunjukkan sosok tinggi besar), tetapi Hitler yang kecil itu mengerikan juga tho.…

Apa wayang suket ciptaan Anda diterima di kampung-kampung?

Justru orang awam sangat menghargai. Pertama mereka terkekeh-kekeh, tetapi 2-3 menit kemudian mereka terbawa. Jadi, di Jawa bentuk itu hanya sebagai landasan awal memasuki karakter. Setelah itu, yang penting kelembutan, kejiwaan, perilaku, filosofi, nilai, itu lebih penting dari bentuk. Bentuk itu sudah terjadi pada Ki Manteb (Sudarsono) ketika sabet jadi begitu dahsyat….

Prinsip wayang suket Slamet Gundono sebenarnya membebaskan wayang dari bentuk yang beku. Pembebasan itu dibutuhkan sebagai pemecahan kebuntuan dunia pewayangan dan pedalangan, yang hanya mampu menjangkau kalangan tertentu. Ia menemukan bentuk pentas yang mencoba menyinergikan dunia teater dan tari dengan dunia pewayangan Jawa. Kisah-kisah dalam Mahabaratha dan Ramayana tak hanya dimainkan sebagai cerita utama, tetapi lebih sering dipinjam sebagai bingkai untuk mengungkap berbagai persoalan aktual. Karena itu, wayang-wayang dari ilalang atau benda-benda lain yang ditemukan Gundono terasa lebih dinamis dan lentur diisi dengan berbagai karakter karena memberi keleluasaan pada imajinasi.…

Biodata

  • Nama: Slamet Gundono
  • Tempat, tanggal lahir: Tegal, 19 Juni 1966
  • Istri : Kiki
  • Anak: Nandung Albert Slamet Saputra (4)

Pendidikan:

  • Pesantren Alma’un di Dukuh Salam, Kecamatan Slawi, Tegal
  • Pondok Pesantren Babakan, Desa Babakan, Tegal, Jateng
  • Institut Kesenian Jakarta 1987-1989 – STSI Surakarta 1990-1998

—————————————————————-

Tak Pernah Berpikir Gemuk

Sejak kecil tubuh Slamet Gundono sudah menunjukkan tanda-tanda kegemukan. ”Waktu SD itu kalau sudah senam, saya selalu tidak kuat. Saya keturunan gemuk dari bapak dan ibu. Kakak saya juga gemuk, keponakan juga gemuk, ha-ha-ha,” tutur Slamet Gundono terkekeh-kekeh. Ia menanggapi pertanyaan soal ukuran tubuhnya yang berlebihan dengan penuh guyon.

Ia mengaku tak pernah menimbang badan. ”Enggak pernah, enggak berani. Karena saya tidak pernah berpikir gemuk, ha-ha- ha… enjoy aja,” katanya.

Semasa SD, Gundono hidup antara kakak dan bapak angkat. Ibunya meninggal tak berapa lama setelah melahirkan Gundono. ”Ayah juga kemudian nyusul, saya anak terkecil dari 12 bersaudara.” Di antara kakak dan bapak itu, dalam hidupnya selalu ada tokoh perantara yang menjadi tempatnya untuk berbagi. Gundono kemudian menjadi santri dan sahabat Kiai Umar Moyo yang mendirikan Pondok Pesantren Alma’un. Bahkan di pondok ini Gundono terlibat secara dalam, sampai-sampai mewakafkan tanahnya.

”Kiai saya ini unik. Di luar soal-soal ngaji, pondok ini mengurus orang-orang gila yang telantar, pencandu minuman keras dan narkoba, serta orang- orang tua sampai menjadi jasad,” tutur Gundono. Kehidupan di Alma’un, kata Gundono, sangat memengaruhi pandangan-pandangan hidupnya pada masa kini. Selain mengurus orang mati, pondok ini juga memberi kebebasan kepada para santrinya untuk berekspresi seni. ”Sejak di pondok itu saya sudah mementaskan Kumbakarna Gugur dalam bentuk teater, saya juga jadi pemain dangdut, ha-ha-ha,” katanya.

Pada masa itu, Slamet Gundono mengaku memiliki kebiasaan mendengarkan siaran wayang dari Radio Wonocolo yang dipancarkan dari Surabaya. ”Setiap Jumat malam saya gelar kloso (tikar), siapkan makanan, lalu dengarkan kaset Ki Narto Sabdo. Itu kira-kira saya lakukan 5-6 tahun sehingga saya hafal seluruh kaset Ki Narto Sabdo,” ujar Gundono sembari menambahkan, dalam karier dalangnya, ia sangat terpengaruh oleh gaya Ki Narto. Lantaran itu, semasa kuliah di STSI Surakarta, seorang dosen yang juga dalang selalu marah- marah setiap Gundono mendalang.

”Ki Gondo Darman, dosen saya, selalu bilang, ’Kowe itu opo to Narto Sabdo, Narto Sabdo’. Saya tahu dia cemburu karena Ki Gondo Darman dan Narto Sabdo dua rival yang gila,” tutur Gundono. Ki Gondo Darman sampai-sampai membawa Slamet Gundono ke rumahnya di Sragen untuk belajar mendalang. Tak berapa lama, lanjut Gundono, Ki Gondo meninggal. Begitu juga dengan gurunya yang lain, Ki Mudjoko Rahardjo dari Klaten, Jawa Tengah. ”Saya hampir jadi dalang wayang klasik,” kata Gundono. Ki Mudjoko juga kemudian meninggal dunia.

Kepergian dua gurunya itu membuat Slamet Gundono kehilangan pegangan. Itulah sebab musababnya ia menerima tawaran kakaknya berlibur selama dua bulan di Riau. Di daerah itu pula kemudian Gundono menciptakan suluk wayang suket untuk pertama kali. Sepulang dari Riau, ia kemudian mendirikan Sanggar Wayang Suket, yang kini beralamat di Jalan Sibela Timur 3 Nomor 1, Perumnas Mojosongo, Jebres, Surakarta, Jawa Tengah. (CAN/ASA)

Minggu, 5 Juli 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s