Drupadi dan Srikandi


Sebagaimana diketahui bahwa budaya wayang di Jawa banyak dipengaruhi dan sebagian besar merujuk kepada cerita Mahabarata yang berasal dari India. Oleh pujangga-pujangga negri ini beberapa cerita dan tokoh kemudian “disesuaikan” dengan budaya lokal agar dapat diterima oleh masyarakat.

Perbedaan yang cukup besar terjadi pada jalan cerita dan penokohan dari 2 sosok wanita anak Prabu Drupada yaitu Drupadi dan Srikandi. Adapun perbedaan antara Mahabarata versi India dengan Mahabarata pada pewayangan Jawa tentang sosok dan kisah hidup kedua wanita tersebut dapat dijelaskan sebgai berikut :

Jawaban ARBANGI

DRUPADI

Versi Mahabarata

Kisah drupadi pada Mahabarata diawali dari sayembara yang diadakan oleh ayahnya, prabu Drupada.

Isi sayembara: siapa bisa mengankat busur dan memanahkan anak panah pada cakra yang terus berputar, dia yang berhak mempersunting drupadi. Pada hari sayembara, banyak para ksatria yang tidak mampu menjawab tantang itu, sampai kemudian Karna berhasil melakukannya. Sayang, drupadi enggan bersuamikan seorang anak kusir. Maka majulah seorang brahmana yang sanggup menjawab tantangan itu, dia adalah arjuna. Namun karena Arjuna mengikuti sayembara atas nama Pandawa, akhirnya drupadi menjadi istri bagi kelima pandawa (poliandri). Dari kelima suaminya itu drupadi beroleh lima orang putra: Pratiwinda, Sutasoma, Srutakirti, Satanika, Srutakama.

Pada versi jawa.

Kisah drupadi diawali dari “Sayembara Gandamana”, patih kerajaan Pancala itu buat tantangan siapa yang bisa mengalahkan dia berhak mempersunting putri rajanya. Yang memenangkan sayembara itu adalah Bima (sebenarnya Gandamana unggul, tetapi ketika ia berhasil melumpuhkan Bima, panegak pandawa itu nangis dan menyebut nama ayahnya: Pandu Dewanata, sehingga gandamana trenyuh teringat pada mantan Rajanya itu dan akhirnya justru mewariskan aji bandung bandawasa). Tetapi karena Bima ikut sayembara bukan untuk dirinya tetapi untuk Puntadewa, akhirnya ia menjadi istri bagi Puntadewa saja. Dari Puntadewa ini, drupadi mempunya anak raden Pancawala. Perubahan cerita ini karena Poliandri (seorang wanita bersuamikan lebih dari satu suami) itu dilarang dalam hukum Islam.

SRIKANDI

(Versi Mahabharata)

Dewi Amba sakit hati karena cintanya pada raja Salwa dari Saubala akhirnya harus pupus karena Bisma memenangkan Sayembara untuk memperoleh dirinya. Namun ketika ia akhrinya menyerahkan dirinya pada Bisma, putra Santanu itu pun menolaknya, sebab ia ikut sayembara untuk adiknya lain Ibu: Wichitrawirya. Sakit hati kerena merasa dipermalukan, Dewi Amba ini kemudian bertapa dan berdoa pada para dewa agar bisa membalas sakit hatinya itu. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi, putri prabu Drupada.

Suatu saat, Drupada mengambil untaian bunga (yang diletakkan oleh Dewi Amba saat ia meninggalkan Hastinapura karena sakit hati) dan mengalungkannya pada Srikandi. Ajaib, kelamin putrinya itu berubah jadi laki-laki.

Menurut Wiracarita Mahabarata, srikandi ini tetap sebagai pria (meskipun penampilannya seorang wanita) dan dia punya seorang Istri. (Ini artinya, menurut Mahabarata, Srikandi itu bukan istri Arjauna)

Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang “seorang wanita”, ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma sampai akhirnya senopati tua itu terbunuh.

(Versi Jawa)

Srikandi adalah putri prabu Drupada yang tetap menjadi seorang putri. Dalam lakon “Mbangun Taman Maerokoco”, ia diajari memanah oleh Arjuna dan akhirnya menikah dan beroleh seorang putra. Ini artinya, Srikandi tetap sebagai wanita, beda dengan wiracarita Mahabarata, dimana Srikandi berkelamin laki-laki (walau penampilannya seperti wanita).
Dalam cerita Jawa, Srikandi pernah menjadi seorang satria: Bambang Kandihawa yang menikah berhubungan dengan seorang resi Amintuna (jelmaan Arjuna) dan beroleh keturunan: Nirbita Niwatakawaca (dialah yang pernah memaksa melamar Bathari Supraba tetapi gagal karena bisa dibunuh oleh Begawan Ciptowening, jelmaan Arjuna, alias bapaknya sendiri). Cerita ini rumit sekali

Dalam lakon Seta Gugur (dibawakan dengan sangat apik oleh dalang favorit, Ki Hadi Sugito). Kita mendengar kisah Srikandi yang sebenarnya bisa saja dikalahkan oleh Bisma. Tetapi ketika bayangan Dewi Amba muncul dalam diri Srikandi, Bisma pun takluk dan akhirnya menemui kematian diterjang panah Srikandi.

Akhir hidup Srikandi sama antara versi jawa dan mahabarata yakni dibunuh oleh Aswatama pasca perang Barathayuda, saat mereka sedang merayakan kelahiran anak Abimanyu dari Utari: Parikesit.

Nilai dalam kisah Srikandi dan Drupadi

(Jawaban Pak Baskara)

Saya menambahkan sedikit lagi, yaitu makna kisah Drupadi dan kisah Srikandi.

  1. Yang utama adalah bahwa di kehidupan ini, oleh Sang Pencipta telah ditetapkan hukum yang berlaku universal, yang tidak berubah hingga akhir zaman.
    Kisah Srikandi terkait erat dengan sepak terjang Bisma. Oleh sebagian orang disebut sebagai hukum karma, dan di bagian dunia yang lain disebut dengan sebutan yang berlainan. Salah satunya adalah sebutan jodoh. Pada hakekatnya, jodoh itu tidak lain dari hukum karma itu.
  2. Pelajaran yang kita petik adalah bahwa kita semua bertanggungjawab sepenuhnya akan apa-apa yang terjadi pada kita. Mengajak kita semua untuk tidak cenderung menyalahkan orang lain. Sebagai contoh kecil, saya pernah membaca surat pembaca yang kehilangan tas di kala menghadiri suatu seminar, lalu menyalahkan pihak penyelenggara seminar, bukannya menyadari bahwa sebab utamanya adalah kelalaiannya sendiri.
    Ini sejalan pula dengan filosofi bahwa yang paling utama bagi kita adalah amal perbuatan kita.

Mengapa ada perbedaan versi Jawa dibanding versi India?

Terkait dengan budaya dan adat istiadat setempat.

Drupadi bersuamikan 5 orang, mungkin hal yang biasa di India, Tetapi di Indonesia, khususnya di Jawa, hal itu tidak bisa diterima.

Mengenai perbedaan versi apakah Srikandi terlahir sebagai laki-laki atau perempuan, tidaklah terlalu penting. Yang lebih penting adalah bahwa tatkala melawan Bisma, Srikandi adalah seorang wanita, yang bertugas sebagai panglima perang Pandawa. Makna yang dapat dipetik adalah: kaum pria jangan menyepelekan wanita. Dalam dunia modern, kesetaraan jender.

About these ads

4 thoughts on “Drupadi dan Srikandi”

  1. Sugeng siang, mohon penjelasan sebenarnya asal muasal kisah baratayudha atau mahabarata ini asli dari Indonesia atau memang kisah Hindu dari negeri India? Sebab dari beberapa fakta sejarah yang ada justru nama-nama dalam pewayangan ini seperti misalnya Mandura (sekarang Madura) itu justru adanya di Indonesia khususnya daerah Jawa dan sekitarnya. Kalau dikatakan wayang Jawa itu besutan walisongo menjiplak versi India, tentunya nama-nama di dalam pewayangan tidak akan menjadi suatu nama daerah. Harap kita ketahui bersama, contohnya bahwa Madura sendiri sudah ada jauh sebelum walisongo itu berdakwah. Saya malah cenderung berpendapat bahwa sebenarnya kisah Mahabarata ini asli milik Indonesia, justru India lah yang meniru pewayangan milik Indonesia. Wallohua’lam atas ketidak tahuan saya, mohon penjelasan. Nuwun.

  2. @pak dokter
    asli india..tempat n sisa2 peninggalannya pun ada n sama persis disana..

    cerita wayang itu kalau ga mahabarata ya ramayana dan semua berasal dari India..kan asalnya Hindua dari sana..jgn suka mengklaim2 seperti negara tetangga tanpa dasar yg jelas.

    salam

  3. Betul, asli India,
    Cerita pewayangan Mahabarata dan Ramayana sudah masuk ke Nusantara jauh sebelum walisongo, akan tetapi cerita pewayangan itu bergeser karena disesuaikan dengan masyarakat di sini, dan pada masa walisongo, walisongo pun ikut melakukan penyesuaian itu.

    Kalau nama Madura memang diambil dari cerita pewayangan, itu karena pewayangan memang sudah masuk ke sini sebelum walisongo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s