Lakon “WAHYU”


Cerita Wahyu

Sesuai dengan ajaran yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat Jawa, bahwa fungsi wahyu adalah sebagai sarana untuk membangun. Wahyu untuk membangun fisik negara, tata tertib, rumah tangga, membangun moral, jiwa, rohani, dan budi pekerti. Wahyu sangat terkait dengan ajaran agama, karena merupakan anugrah Tuhan kepada umat yang berkenan kepadaNya, dan siapakah umat yang diperkenankanNya? Pertanyaan itu dalam tata kehidupan masyarakat Jawa tergambar melalui pertunjukan wayang dengan lakon Wahyu. Siapa umat yang akan menjadi pemilik Wahyu, tentu perlu diamati.

KAYON_WAHYU_TUMURUN

Ada beberapa contoh lakon Wahyu dalam pewayangan di dintaranya Wahyu Cakraningrat, Wahyu Purbasejati, Wahyu Makutha Rama, Wahyu Senapati. Akan tetapi masih banyak lakon atau cerita wahyu selain ke -4 contoh di atas dan cerita wahyu tersebut dikarang oleh para dalang sendiri yang judulnya sangat menarik para konsumen, misalnya Wahyu Pangayoman, Wahyu Pancasila, Wahyu Pancajasmani, Wahyu Toh Jali dan lain-lainnya.

Empat lakon wahyu tersebut di atas, tidak begitu populer di kalangan dalang mungkin hanya satu atau dua dalang saja yang mengetahuinya, apalagi dimata penggemarnya. Empat wahyu ini tidak bisa terendus penggemar sebab tidak terbukukan. Lagi-lagi sangat dimungkinkan bahwa penciptaan lakon keempat wahyu ini terasa hanya sebuah improvisasi, karena memang sedang dalam kondisi model lakon wahyu maka sulit dikenal. Namun demikian bukan berarti empat lakon wahyu yang di maksud lebih rendah kwalitasnya. Lakon wahyu tetap lakon yang bermutu, semua bisa diterima, hanya saja 4 judul wahyu yang terakhir belum dimengerti orang. Mengamati lakon wahyu pasti menanyakan tokoh mana yang mampu dan bisa memiliki wahyu dan siapa pula yang berhak ketempatan wahyu itu?

Wahyu bisa diraih hanya dengan sebuah laku yaitu penyerahan diri kepada yang Maha Kuasa serta tawakal menahan nafsu (prihatin). Bagi siapa yang ingin meraih tentu dibarengi dengan sebuah laku nyepi, bersemedi, berpuasa, berbuat baik, suci dan hampir-hampir berperilaku meninggalkan kesenangan dunia fana ini. Itulah laku yang harus dijalani yang lamanya tidak diketahui orang. Dan patokan yang terakhir adalah semua yang berkenan dalam kehendak Sang Hyang Wenang Jagad.

Wahyu Cakraningrat

Banyak tokoh ingin meraih dan memiliki wahyu kraton yang akan diturunkan oleh dewa yang disebut Wahyu Cakraningrat. Menurut para pujangga, barang siapa memiliki Wahyu Cakaraningrat dialah yang akan menurunkan raja-raja terkenal. Tokoh-tokoh bangsawan seperti anak raja, anak satriya, anak patih, sampai anak pendeta, semua ingin memiliki Wahyu Cakraningrat yang bisa menurunkan raja besar.

Mereka-mereka itu seperti Raden Lasmana Mandrakumara putra mahkota kerajaan Astina yang dipersiapkan sebagai pengganti ramanda Prabu Duryudana. Saingan beratnya adalah Raden Samba putra mahkota kerajaan Dwarawati anaknya Prabu Sri Batara Kresna. Sedangkan yang lainnya adalah putra Raden Arjuna yang bernama Raden Angkawijaya. Dan tentu masih ada seseorang tokoh yang ingin memiliki wahyu kraton ini. Barang siapa memiliki Wahyu Cakraningrat maka dialah yang akan menurunkan raja besar. Dalam cerita Wahyu Cakraningrat sedikitnya ada tiga tokoh yang ingin memiliki wahyu tersebut. Ketiga bangsawan ini termasuk generasi penerus yang memiliki karakter berbeda-beda.

Para penonton di saat melihat pagelaran wayang dengan lakon Wahyu Cakraningrat, nampak tertegun pada sajian ki dalang sejak dari awal. Hal tersebut terbukti saat adegan jejer negara Hastina sang Prabu Duryudana sedang dihadap para punggawa (nayaka), dan munculnya putra mahkota Raden Lasmana Mandrakumara yang sikap dan bicaranya sangat menggelitik hati penonton.

Raden Lasmana Mandrakumara ingin memiliki Wahyu Cakraningrat, dan dia harus bertapa di hutan Gangga Warayang. Pada saat ditanya tentang kesanggupannya bertapa di hutan, maka Raden Lasmana Mandrakumara menjawab sanggup bertapa di hutan tersebut.

Namun dia ingin agar dijaga paman-pamannya, di antaranya adalah Sengkuni dan Drona. Yang paling penting bagi Lasmana Mandrakumara adalah membawa minuman dan makanan dengan tujuan agar tidak kelaparan pada saat bertapa meraih wahyu. Dengan demikian diri si tapa akan tenang sehingga wahyunya nanti akan mudah menyatu ke tubuh (manjing sarira), itulah pemikiran para sesepuh Hastina. Keberangkatannya di antar oleh para punggawa prajurit berkuda dan Lasmana Mandrakumara naik Joli Jempana yaitu kereta yang ditarik lebih dari dua ekor kuda.

Lain lagi dengan putra mahkota Dwarawati satriya Parang Garuda Raden Samba. Dia satriya yang pemberani juga ingin bertapa di dalam hutan Gangga Warayang untuk meraih Wahyu Cakraningrat. Kebertangkatannya diantar oleh para senapati sampai di perbatasan kraton. Selanjutnya berangkat sendiri dengan berjalan kaki.

Ketika dalam perjalanan, Raden Samba bertemu dengan orang-orang Kurawa yang juga akan menuju ke hutan Gangga Warayang guna menyambut turunnya Wahyu Cakraningrat. Secara persaudaraan mereka saling bertegur-sapa tetapi setelah mengetahui keperluan masing-masing, mereka menjadi selisih pendapat. Awalnya hanya pertengkaran mulut, tetapi akhirnya menjadi pertengkaran fisik. Karena Raden Samba hanya sendirian maka ia tidak mampu melawan Kurawa, dan akhirnya menyingkir.

Ada satu kebulatan tekad dalam diri Raden Samba. Walaupun kalah perang melawan orang-orang Kurawa dari Hastina bukan berarti harapan untuk memiliki Wahyu Cakraningrat berhenti. Wahyu Cakraningrat harus bisa diraih dan bisa menjadi miliknya, begitulah pikiran Raden Samba. Agar tidak bertemu dengan orang Hastina yang urakan itu maka Raden Samba melanjutkan perjalanan menuju hutan Gangga Warayang dari sisi lain.

Peristiwa telah terjadi di tempat lain yaitu di tengah hutan. Ada seorang satriya bernama Raden Abimanyu yang dikeroyok lima raksasa hutan, dan nampak satriya tersebut agak kewalahan. Kebetulan di angkasa terlihat Raden Gathotkaca yang sedang mencari Raden Abimanyu atas perintah sang paman Raden Arjuna.

Dari angkasa Raden Gathotkaca telah melihat dengan jelas kejadian yang menimpa Raden Abimanyu, maka dengan segera dan cepat-cepat turun untuk membantu Raden Abimanyu. Dalam sekejab tamatlah riwayat lima raksasa pembegal itu di tangan Raden Gathotkaca. Setelah beristirahat sejenak, Raden Abimanyu menjelaskan kepada Raden Gathotkaca, bahwa dia sedang mencari Wahyu Cakraningrat. Maka Raden Gathotkaca dimohon agar pulang dahulu. Setelah Raden Gathotkaca pulang maka Raden Abimanyu melanjutkan perjalanan hingga sampai di suatu gunung yang dijadikan sebagai tempat bertapa.

Panakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong berada di tempat yang jauh menanti selesainya Raden Angkawijaya (Abimanyu) bertapa. Sudah berbulan-bulan belum ada tanda-tanda selesai bertapa.Tiba-tiba keempat panakawan tersebut di suatu hari waktu larut malam melihat cahaya sangat terang turun di hutan Gangga Warayang bagian timur yang disusul dengan suara gunung meletus.

Panakawan bingung, khawatir terhadap tuannya (bendaranya) yaitu Raden Angkawijaya, jangan-jangan suara tadi mengenainya sehingga mengakibatkan kematian. Baru saja akan beranjak tiba-tiba para panakawan mendengar sorak-sorai, yang ternyata adalah orang-orang Kurawa. Mengapa dan ada apa mereka bersorak-sorai? Wahyu Cakraningrat sudah turun dan berada pada diri Raden Lasmana Mandrakumara. Para Kurawa langsung mengajak Raden Lasmana Mandrakumara pulang ke negeri Astina.

Rasa suka cita yang tiada taranya telah dirasakan oleh semua punggawa Hastina yang dalam hatinya masing-masing merasa sukses dan berhasil. Para golongan tua di antaranya Drona, dan Sengkuni merasa berhasil dan sukses mendidik Raden Lasmana Mandrakumara. Yang muda merasa berhasil memberikan petunjuk dan arahannya kepada putra mahkota itu dan masing-masing merasa berjasa. Sehingga semua berkata “kalau tidak ada saya mungkin gagal untuk mendapat Wahyu Cakraningrat.”

Rombongan Kurawa segera pulang untuk merayakan keberhasilan Raden Lasmana Mandrakumara. Dalam perjalanan pulang rombongan Kurawa tidak merasa bahwa perjalanan kembali itu sudah mendapat separuh perjalanan. Tiba-tiba Raden Lasmana minta berhenti sebab dia bertemu orang yang berjalan sedang membawa barang bawaan dan tidak menghormat saat berada di depan Raden Lasmana Mandrakumara. Maka ditendanglah hingga orang itu terguling-guling di tanah dan barang bawaannya terlempar jauh serta hancur berantakan.

Begitu ada kejadian seperti itu maka para punggawa yang merasa berjasa cepat-cepat ikut marah. Orang tadi terus dipukuli dan ditendang seperti bola. Orang itu hilang berubah menjadi cahaya dan kemudian masuk ke tubuh Raden Lasmana Mandrakumara dan keluar lagi bersama Wahyu Cakraningrat. Seketika itu jatuhlah Raden Lasmana Mandrakumara hingga pingsan. Mereka bersama-sama lari mengejar Wahyu Cakraningrat dan saling mendahului. Raden Lasmana Mandrakumara ditinggal sendirian di tempat itu.

Sejenak peristiwa itu berlalu, terlihatlah dua cahaya dari angkasa turun di hutan Gangga Warayang di bagian sebelah barat. Tidak lama kemudian Raden Samba yang bersemedi di tempat tersebut merasa bahwa dirinya sudah bisa mendapatkan Wahyu Cakraningrat. Dia sangat bangga bahwa dengan kekuatan sendiri bisa mendapatkan wahyu tersebut. Maka berangkatlah Raden Samba pulang ke Dwarawati dengan hati yang sombong karena Wahyu Cakraningrat sudah berada pada dirinya. Tiba-tiba Kurawa mengejar dan meminta wahyu yang sudah berada pada diri Samba. Sudah barang tentu Raden Samba tidak memperbolehkan. Terjadilah peperangan yang sengit.

Ternyata tidak ada yang bisa melawan kekuatan Raden Samba. Mereka lari tunggang langgang dan tidak ada lagi yang berani berhadapan dengan Raden Samba. Dengan larinya para Kurawa itu berarti mereka telah kalah dan tidak akan berani lagi mengganggu perjalanan Raden Samba. Demikianlah Raden Samba merasa dirinya paling kuat dan sakti mandraguna. Dia berani mengatakan ”akulah segalanya.” Bahkan Raden Samba telah berani mengukuhkan ”Akulah orang yang akan menurunkan Raja-raja Jawa, dan sangat mungkin aku akan menjadi Raja Dunia, menjadi Rajanya Raja.”

Sesudah melontarkan kata-kata itu, dia lalu terdiam sejenak, dia seperti mendengarkan lengkingan kata-kata sang ibu dewi Jembawati ”Anakku ngger Samba, eling den eling ngati-ati marang sakehing panggoda. Eling-elingen ya ngger ya!” (anakku Samba, ingat dan hati-hatilah terhadap semua godaan, ingatlah angger).

Dasar Samba anak yang congkak dan sombong, kata-kata ibunya itu selalu diingat tetapi tidak diperhatikan. Dalam hati kecil Raden Samba berkata ”namanya orang kuat karena mendapat wahyu maka tak ada yang mampu mengganggu, contohnya Kurawa tak akan mampu mengalahkanku ha..ha..ha…” demikian kata-kata sombong Raden Samba.

Sejenak kesombongan Raden Samba sedang bertahta dalam singgahsana hatinya. Seketika itu juga nampak di matanya seorang perempuan bersama seorang laki-laki tua. Si perempuan itu masih muda, cantik berkulit kuning langsap, bermata juling. Mereka menghaturkan sembah kepada Raden Samba. Dan tentu Raden Samba sangat rela untuk menerima sembahnya. Keduanya ingin mengabdi kepadanya. Itulah keperluan mereka berdua, mengapa keduanya menghadap ke sang penerima Wahyu Cakraningrat. Seketika itu juga Raden Samba berkenan untuk menerimanya tetapi si laki-laki ditolak dengan alasan sudah tua dan dipastikan tidak mampu bekerja, justru akan membuat kesal saja. Dengan hinaan itu menyingkirlah orang tua tersebut. Tentu saja si perempuan cantik itu mengikuti jejak si tua. Tetapi Raden Samba telah mengejarnya, sambil merayu si perempuan cantik yang mengaku bernama Endang Mundhiasih.

Jawab Mundhiasih sambil melontarkan kemarahan atas ketidak adilan serta tidak adanya rasa belas kasih terhadap orang tua, hanya perempuan saja yang dikejar-kejar. Endang Mundhiasih berkata “Wahyu Cakraningratmu tidak pantas untuk menghujat”. Ternyata Mundhiasih dan orang laki-laki tua itu kemudian hilang bersamaan dengan sinar Wahyu Cakraningrat pergi meninggalkan Raden Samba.

Seketika itu badan raden Samba terasa lemas bagaikan orang tak berpengharapan dan tidak tahu apa yang akan diperbuat. Bukan main rasa kecewa Raden Samba terhadap watak sombong dan congkaknya ketika merasa wahyunya sudah pergi. Wahyu Cakraningrat tidak kuat menempati rumah (tubuh) yang congkak dan sombong. Akhirnya Raden Samba menyadari bahwa Wahyu Cakraningrat bukanlah miliknya. Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur maka pulanglah Raden Samba ke Kadipaten Parang Garuda di negara Dwarawati.

Di tempat lain, di sebelah selatan hutan Gangga Warayang, terlihat empat panakawan seperti biasa masih menanti selesainya tapa sang bendara. Pekerjaan seperti ini sudah terbiasa dilakukan oleh para panakawan sejak jaman Maharesi Manumayasa.

Namun pada malam hari mereka berempat merasa seperti ada bayangan hitam berada tepat di tengah-tengah mereka. Bayangan tersebut sambil berkata ”Jawata bakal marengake dheweke nampa Wahyu Cakraningrat ”. (Dewata memperkenankan dia untuk menerima Wahyu Cakraningrat)

Demikian para panakawan bergembira ria karena bendaranya telah mendapatkan apa yang didiinginkan. Dan benar, Raden Angkawijaya telah keluar dari pertapaannya. Wajahnya kelihatan cerah bersinar, tubuhnya nampak segar utuh tanpa cela. Memang itulah tubuh yang telah berisi wahyu. Maka berangkatlah pulang dan mereka memperhitungkan bahwa apa yang diidamkan telah terlaksana dan selesailah.

Tiba-tiba datang para Kurawa mengejar Raden Angkawijaya yang telah mendapat Wahyu Cakraningrat. Para Kurawa mengejar Raden Abimanyu karena ingin merebut Wahyu Cakraningrat dan ternyata para Kurawa tidak mampu mengejarnya hingga Raden Angkawijaya sudah sampai di istana Amarta yang pada saat itu di Amarta sedang ada rapat rutin (siniwaka). Mereka semuanya bersyukur karena apa yang diinginkan Angkawijaya telah menjadi kenyataan. Dan Angkawijaya-lah kelak yang akan menurunkan raja-raja di Jawa.

Tak lama kemudian terdengar suara ramai di luar yang ternyata orang-orang Kurawa yang merasa bahwa Wahyu Cakraningrat sudah menjadi milik Raden Lasmana Mandrakumara, maka mereka menginginkan agar Wahyu Cakraningrat di kembalikan kepada Raden Lasmana Mandrakumara. Peperangan antara Kurawa dengan Pandawa tak bisa dihindarkan. Namun tak ada si jahat dapat mengalahkan kebaikan.

Wahyu Purbasejati

Bila wahyu berupa anugerah dari Sang Hyang Maha Wenang, maka perlu dijelaskan bahwa kata Purba artinya kuasa dan sejati berarti yang sesungguhnya. Jadi Wahyu Purbasejati berarti anugerah tentang kuasa yang sesungguhnya. Siapa yang mendapatkannya? Jawabannya adalah sama dengan yang mendapatkan wahyu pada cerita-cerita tentang pewahyuan, yaitu seorang yang bhaktinya tinggi, mau melakukan prihatin, bersih hatinya, berusaha mengatasi nafsu jahat yang ada pada dirinya. Lalu dalam cerita Wahyu Purbasejati ini siapa yang mendapatkannya?

Marilah kita simak!

Di alam penantian (pangrantunan) yang disebut Swarga Pangrantunan dikuasai oleh Prabu Dasasukma yang juga jejuluk Prabu Godhayitma atau Prabu Dasakumara. Prabu Dasakumara sedang dihadap oleh semua punggawa (narapraja) lengkap yang terdiri dari sukma-sukma orang Alengka. Dan pada saat itu, meskipun dalam kondisi berwujud sukma, sang Dasakumara masih menghendaki untuk memperisteri jelmaan Batari Sri Widowati yang telah menjelma pada diri Dewi Wara Sembadra isteri Raden Arjuna.

Dewi Wara Sembadra sedang berada di Dwarawati sebab ditinggal pergi suaminya. Raden Arjuna pergi untuk mencari, dan ingin mendapatkan Wahyu Purbasejati yang akan turun di Gunung Jamurdwipa seperti yang diwangsitkan oleh Dewa Hyang Maha Agung. Namun wangsit tentang akan turunnya Wahyu Purbasejati juga didengar oleh umat manusia dari segala penjuru dunia, sehingga pada malam-malam penentuan di bukit Jamurdwipa banyak orang mengharapkan untuk mendapatkan wahyu Purbasejati. Tidak ketinggalan orang-orang Kurawa juga ikut hadir untuk mengharap turunnya Wahyu Purbasejati demi kesejatian Prabu Duryudana sebagai raja di negara Astina.

Dengan kehadiran Raden Arjuna di malam menjelang turunnya wahyu di bukit Jamurdwipa, sekian ribu orang itu semua tertidur dengan pulas sehingga kedatangan Wahyu Purbasejati hanya masuk pada diri Arjuna. Dalam kondisi yang tenang itu, tiba-tiba datanglah Wrekodara yang mencari Arjuna. Setelah bertemu diajak pulang ke negara Amarta.

Sampai di Amarta diberitahu bahwa Sembadra dibawa ke Dwarawati dan kini dicuri oleh maling (duratmaka) yang sekarang ini sedang dicari. Tanpa pikir panjang Arjuna terbang ke Dwarawati. Sampai di Dwarawati kebetulan bersamaan dengan datangnya Anoman yang sudah membawa Sembadra kembali.

Selanjutnya Anoman menceritakan, bahwa atas keserakahan Kumara Dasamuka yang kini berada di alam Pangrantunan menginginkan Batari Widowati yang menjelma pada diri Sembadra. Sembadra dicuri oleh Raden Begayitma dimasukkan ke kancing gelung. Anoman mengetahui dan mengejar Raden Begayitma. Kemudian Anoman masuk ke dalam kancing-gelung Raden Begayitma (sukma Indrijid) mengambil Sembadra dan dimasukkan dalam kancing gelungnya. Anoman terus mengikuti Begayitma kembali pulang ke alam Pangrantunan. Setelah Begayitma bertemu Godhayitma, kemudian Godhayitma dipersalahkan untuk menemui Dewi Wara Sembadra. Karena keinginannya bertemu amat sangat tidak bisa ditunda lagi, maka Prabu Godhayitma langsung manjing di kancing gelung untuk mengambil Sembadra.

Tetapi…, ternyata bukannya bertemu Sembadra melainkan bertemu dengan Wanara Seta atau Anoman, yang langsung menggigit telinga Dasakumara hingga teriak-teriak kesakitan dan menyatakan tidak akan mengganggu lagi.

Wahyu Makutha Rama

Di kaki sebuah gunung yang disebut Wukir Kutha Runggu terlihat debu bertebaran karena tanah yang jarang terkena siraman air hujan. Di musim kemarau yang berkepanjangan dan suhu yang sangat panas itu, bisa mempengaruhi nafsu manusia juga gampang memanas. Dan ketika itu, di tengah-tengah tebaran debu lamat-lamat terlihat beberapa sosok manusia yang beradu jotos. Lama sekali adu jotos itu, mungkin karena sama kuatnya. Tetapi semakin lama semakin nyata dan jelas sekali bahwa kelompok yang bertikai itu adalah orang-orang Hastina melawan Anoman, mantan prajurit dari Ayodya, yang kini menjadi siswanya Bagawan Resi Kesawa Sidhi.

Pertapan Wukir Kutha Runggu adalah tempat sanggar Sang Resi Begawan Kesawa Sidhi yang saat ini atas perintah Hyang Dewa Agung untuk menempati sebuah sanggar dan diperkenankan mengajar tentang jalan kebenaran sambil merazia kepada siapa saja yang mau naik ke Wukir Kutha Runggu. Terjadinya adu jotos antara orang-orang Kurawa dengan Anoman di antaranya disebabkan oleh para Kurawa yang memaksa ingin masuk ke wilayah pertapaan Wukir Kutha Runggu.

Anoman adalah satu-satunya kelompok bayu yang harus bertugas mengusir mereka. Seorang Adipati Karna ketika melawan Anoman tak mampu mengalahkannya, sehingga ia harus melepaskan panah ampuhnya yaitu Kuntawijayandanu. Melihat situasi yang kurang pas itu, Anoman siap untuk menyambar panah Kunta Wijayandanu.

Dan ketika terlihat perjalanan panah itu telah berada di sampingnya, dengan secepat kilat panah itu ditangkapnya. Sekejap setelah melepaskan senjata Kunta Wijayandanunya dan Adipati Karna tahu bahwa Anoman tidak mati, maka heran dan terkejutlah ia, sehingga jatuh pingsan Adipati Karna. Sedangkan Anoman yang merasa menang dan mampu menangkap senjata Kunta Wijayandanu cepat-cepat lapor kepada gurunya yaitu Sang Kesawa Sidhi. Tentu Anoman berpikir bahwa sang guru pasti berkenan kepadanya oleh keberhasilan karya dalam kemenangan itu. Setelah bukti kemenangan itu ditunjukkan, ternyata sang guru menganggap apa yang dilakukan Anoman melawan Adipati Karna itu tidak memperlihatkan karya suci siswa sanggar Kutha Runggu.

Anoman menjadi bingung ”Apa lagi kesalahanku?”, pikirnya. Sedang dalam kebingungan, Anoman dipaksa oleh Begawan Kesawa Sidhi harus mengembalikan panah Kunta Wijayandanu kepada pemiliknya. Anoman pun sanggup, dan berangkatlah Anoman menemui Adipati Karna. Sampai di salah satu perempatan jalan Anoman menjadi bingung tidak tahu mana arah selatan, utara, timur dan barat. Di seluruh tempat yang didatangi Anoman pasti dikerumuni kabut (pedut) akhirnya Anoman berhenti di sembarang tempat. Ketika belum lama berhenti, tiba-tiba dikagetkan oleh suara angin ribut yang membersihkan pedut tersebut. Begitu suara angin berhenti, pedut hilang dan udara menjadi terang. Anoman terpental jatuh karena Wrekodara turun (anjlog) di tempat dia berhenti.

Anoman marah dan menyalahkan Wrekodara. Tentu saja Wrekodara pun tidak mau disalahkan. Terjadilah selisih paham dan pertengkaran yang dimulai dari mulut hingga menjadi adu fisik dengan sama-sama kuat dan sama-sama sakti.

Dalam lakon wahyu Makutha Rama, memang kedua tokoh ini belum saling mengenal. Baru sekali itu mereka bertemu. Maka dalam adu jotos tak ada yang mau kalah. Segala kesaktian yang dimiliki dikeluarkan. Lama mereka berperang tanpa henti, semua kesaktian sudah dikeluarkan hanya aji-aji yang masih mereka miliki.

Sekali dua kali ajian-ajian dari kedua belah pihak dipamerkan. Satu sama lainnya tak ada yang takut, tak ada yang khawatir dan tak ada yang mau mundur. Nampaknya setelah terasa capek baru mereka berhenti, sepertinya saling memberi ijin untuk beristirahat barang sejenak.

Setelah selesai beristirahat maka mereka bangkit, maksudnya ingin jotosan lagi. Tetapi Anoman berkata ” mengko disik, mengko disik“ ( “Sebentar, sebentar “) yang tentu saja Wrekodara juga tidak meneruskan perkelahian.

Akhirnya dengan melihat cara berpakaian yang sama itu mereka menjadi saling mengetahui bahwa kedua-duanya adalah saudara tunggal bayu. Mereka sama-sama anak angkat Hyang Batara Bayu (Dewa Angin). Sudah barang tentu mereka saling memaafkan dan berjanji akan selalu saling membantu di dalam karya-mulianya yang memayu hayuning bawana.

Selanjutnya mereka berdua saling menjelaskan tujuannya masing-masing. Anoman menerangkan bahwa ia disuruh oleh Sang Begawan Kesawa Sidhi untuk mengembalikan panah (jemparing) Kunta Wijayandanu kepada Adipati Karna raja Angga (Awangga). Sedangkan Wrekodara disuruh kakaknya yaitu raja Amarta untuk mencari adiknya yang bernama Arjuna. Belum lama mereka berdiskusi datanglah Prabu Baladewa. Kedatangannya atas bisikan Sang Hyang Dewa Agung untuk bersama-sama Arjuna ke puncak Wukir Kutha Runggu. Kemudian Anoman mengantar Sang Baladewa ke puncak Wukir Kutha Runggu. Wrekodara pun ke puncak dengan harapan bisa bertemu dengan orang yang dicarinya, yaitu Raden Premadi atau Raden Arjuna.

Dengan melalui ijin Begawan Kesawa Sidhi, Prabu Baladewa bersama Wrekodara langsung naik ke puncak Wukir Kutha Runggu. Anehnya Prabu Baladewa pada saat berada di puncak dia lalu bersemedi dengan bersungguh-sungguh.

Raden Wrekodara yang kemudian hanya tinggal sendirian merasakan dunia pada saat itu menjadi gelap dan dingin, sehingga situasi dan kondisinya sangat menakutkan. Raden Wrekodara terjatuh dan pingsan.

Namun tiba-tiba turunlah dari angkasa cahaya terang menyinari puncka Wukir Kutha Runggu. Cahaya itu pecah menjadi dua, yang satu masuk (manjing) pada seorang satriya yang telah bersemedi terlebih dulu. Sedangkan yang satu berbentuk mahkota jatuh pada pangkuan Prabu Baladewa.

Dengan peristiwa aneh itu turunlah Raden Arjuna dari atas dan langsung membangunkan kakaknya. Raden Wrekodara segera bangun sembari menutup mata karena silau terkena cahaya Raden Arjuna yang baru saja turun dari puncak yang paling atas. Kemudian cepat-cepatlah ia memberitahu kepada kakaknya itu, bahwa dirinya adalah Arjuna. Selanjutnya dijelaskan bahwa baru saja dirinya menerima wahyu Makutha Rama.

Pada waktu itu Prabu Baladewa juga menceritakan bahwa dirinya juga mendapatkan wangsit untuk mengharap wahyu itu. Ternyata dirinya juga mendapatkan meskipun hanya fisiknya saja. Kemudian Arjuna, Wrekodara, dan Baladewa turun ke pertapaan Kutha Runggu, maksudnya menemui Begawan Kesawa Sidhi tetapi sudah tak ada, yang ada adalah Sri Batara Kresna.

Sebagaimana akhir dalam lakon wahyu Makutha Rama, Arjuna, Kresna, Baladewa, Wrekodara dipaksa oleh orang-orang Kurawa agar menyerahkan wahyu Makutha Rama. Maka terjadilah perang akhir, di mana orang Kurawa kalah lari terbirit-birit kembali ke Hastina. Anoman pun sudah mengembalikan senjata Kunta Wijayandanu kepada Adipati Karna.

Wahyu Senapati

Boma merasa menjadi putra Batara Kresna raja di kerajaan Dwarawati. Dia memohon kepada ayahnya yang adalah titisan Batara Wisnu, agar Wahyu Senapati dapat dimilikinya. Tetapi bagaimanapun itu bukan kewajiban Kresna (Wisnu), maka ia tidak sanggup.

Boma raja di kerajaan Trajutrisna itu tetap merayu dan mendesak agar Wahyu Senapati bisa dipegang dan dimilikinya. Karena bujuk rayu Boma maka Sri Kresna terpaksa menyanggupi untuk mengusahakan. Tetapi wahyu itu merupakan kepastian Sang Hyang Wenang Jagad, dan si orang yang menginginkannya tentu harus melakukan prihatin, suci, berbuat adil, tidak jahat dan suka menolong.

Nah.., apakah Boma memenuhi sayarat bagi ketentuan laku itu? Maka nekatlah Boma menuju ke hutan di tempat Sang Gathotkaca bertapa.

Dikisahkan pula tentang Raden Antareja yang mengamuk, karena ingin membunuh adiknya yaitu Gathotkaca. Keinginan Raden Antareja tersebut karena hasutan Patih Sengkuni. Patih Sengkuni menyatakan bahwa Antareja-lah yang punya hak untuk menjadi senapati bukan Gathotkaca. Oleh sebab itu hanya Antareja yang pantas mendapatkan dan memiliki Wahyu Senapati. Terjadilah peperangan antara Antareja dengan Gathotkaca.

Namun sekalipun Gathotkaca tak akan membalas. Semar melerai dan menjelaskan permasalahan yang sebenarnya. Akhirnya Wahyu Senapati menjadi milik Gathotkaca.

Sumber : “Pedalangan untuk SMK oleh Supriyono dkk”

About these ads

2 thoughts on “Lakon “WAHYU””

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s