Video Wayang : Madu Segoro


Bagi penggemar wayang kulit gagrak Banyumas, berikut saya menemukan playlist video wayang di Youtube oleh dalang senior Ki Sugino Siswocarito dengan mengambil lakon “Madu Segoro”. Sebagai informasi katanya Pak Gino usianya sudah 70 tahun.

Ceritanya berawal dari jatuh cintanya prabu Winangkara, raja negara Parangtejo, kepada Arimbi. Melalui mimpi Prabu Winangkara telah jatuh cinta kepada sosok Arimbi yang kemudian diketahui sebagai istri dari Werkudoro, satria Pandawa nomor dua.

sugino-madu-segara

Bagaimana kelanjutan dari lakon ini ? Silahkan nikmati sendiri disini. Video disharing oleh suryasatria

Semar Gugat


Berikut adalah video wayang kulit dari duet  dalang wayang kulit JawaTengah dengan wayang golek dari Jawa Barat, antara Ki Manteb Sudharsono dengan Asep Sunandar. Judul yang ditampilkan adalah Semar Gugat.

asep-sunandar-manteb-semar-gugat

Video sudah disharing oleh cepot66 dan dapat dinikmati disini

Merindukan Wayang Sadat


Oleh Herat Jemen

KABUPATEN Klaten memiliki banyak potensi unggulan di berbagai bidang. Dalam bidang industri kerajinan, misalnya, daerah ini memiliki kerajinan tenun lurik di Kecamatan Pedan, batik di Bayat, dan keramik di Paseban. Di bidang pariwisata, Klaten memiliki sejumlah objek wisata ziarah seperti maka Sunan Pandanaran di Bayat dan makam Ki Ageng Ribig di Jatinom.
kayon_sadatwayang-sadat
Sedangkan di bidang seni-budaya, Klaten memiliki wayang kulit khas, yang membedakannya dengan wayang kulit dari daerah lain. Meski sama-sama terbuat dari kulit yang disamak, tokoh yang ditampilkan berbeda. Bukan Kresna, Arjuna, Semar, atau yang lainnya, melainkan tokoh-tokoh seperti Sunan Kalijaga, Raden Patah, Sunan Kudus, dan wali-wali lainnya di Tanah Jawa.
Wayang kulit ini biasa disebut wayang sadat. Sadat adalah akronim dari sarana dakwah dan tabligh. Wayang ini berkembang di Dusun Mireng, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten.

Sejauh ini cuma tersisa seorang dalang wayang sadat, yaitu Ki Suryadi. Jika wayang kulit pada umumnya digelar semalam suntuk, wayang sadat hanya digelar selama empat jam.

Dalang Berjubah

Pakaian yang dikenakan dalang juga berbeda. Kalau biasanya ki dalang mengenakan beskap, jarit, keris, dan blangkon di kepalanya, maka dalang wayang sadat mengenakan jubah biasa (seperti surjan), dan surban di kepalanya. Sedangkan wiyaga dan waranggana (sinden) mengenakan baju yang ditutup mukena.

Selama pergelaran wayang sadat, bacaan lafal Alquran kerapkali terdengar. Bacaan syahadat dan basmallah terdengar berselang-seling, saat Ki Suryadi memainkan tokok wayang Sunan Bonang atau waliyullah lainnya.

Dengan tampilan seperti itu, wayang sadat sangat baik dan mengena apabila digelar di lingkungan pondok pesantren, karena unsur dakwah merupakan suatu keharusan dalam pergelaran wayang sadat.

Sempat muncul rumor, wayang sadat ditengarai mengandung unsur-unsur magis, namun isu tersebut dibantah Ki Suryadi. Ki Suryadi menciptakan wayang ini sejak puluhan tahun lalu, namun baru kali pertama dipentaskan di depan umum pada tahun 1985. Di masa Orde Baru, pementasan wayang unik ini kerap muncul di TVRI, yang saat itu merupakan satu-satunya stasiun televisi di Indonesia. Wayang sadat juga pernah ditampilkan dalam Festival Istiqlal di Jakarta (1991).

Continue reading

Ki Enthus Susmono : Sugriwo Subali


Berikut adalah sebuah lakon yang dibawakan oleh dalang “edan” Ki Enthus Susmono mengambil cerita “Sugriwo Subali” yang saya peroleh dari skartosoma.

enthus-susmono-sugriwo-subali

Menceritakan tentang kisah ramayana, kisah resi Gotama dan anak-anaknya Anjani, Subali, Sugriwa. Khas Enthus, kisah dibawakan dengan selingan yang ngedan :)

File-file audionya dalat diunduh disini

MP3 Wayang Mas Galuh


Berikut beberapa koleksi pagelaran wayang dari Mas Galuh yang barusan disharing :

gathutkaca_banyumaskresna_w_surak_yogya

  • Ki Nartosabdo dengan lakon Gatutkaca sungging
  • Ki Anom Suroto dengan lakon Bandung Naga Sewu
  • Bayu Aji dengan lakon Kresna Boyong

Saya yakin Mas Galuh masih punya banyak koleksi yang lain. Kita tunggu sharingnya.

Makasih ya Mas ….

File-filenya dapat dilihat di sini

Sejarah Seni Pewayangan


Wayang, merupakan salah satu bentuk teater tradisional yang paling tua. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang, yaitu yang terdapat pada prasasti Balitung dengan tahun 907 Masehi, yang mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang.

wayang-cina-siam-kamboja

Prasasti berupa lempengan tembaga dari Jawa Tengah; Royal Tropical Institute, Amsterdam, contoh prasasti ini dapat dilihat dalam lampiran buku Claire Holt Art in Indonesia: Continuities and Changes,1967 terjemahan Prof.Dr.Soedarsono(MSPI-2000-hal 431).

Tertulis sebagai berikut:

Dikeluarkan atas nama Raja Belitung teks ini mengenai desa Sangsang, yang ditandai sebagai sebuah tanah perdikan, yang pelaksanaannya ditujukan kepada dewa dari serambi di Dalinan. Lagi setelah menghias diri dengan cat serta bunga-bunga para peserta duduk di dalam tenda perayaan menghadap Sang Hyang Kudur. “Untuk keselamatan bangunan suci serta rakyat” pertunjukan (tontonan) disakilan. Sang Tangkil Hyang sang (mamidu), si Nalu melagukan (macarita) Bhima Kumara, serta menari (mangigal) sebagai Kicaka; si Jaluk melagukan Ramayana; si Mungmuk berakting (mamirus) serta melawak (mebanol), si Galigi mempertunjukkan Wayang (mawayang) bagi para Dewa, melagukan Bhimaya Kumara.

Pentingnya teks ini terletak pada indikasi yang jelas bahwa pada awal abad ke-10, episode-episode dari Mahabharata dan Ramayana dilagukan dalam peristiwa-peristiwa ritual. Bhimaya Kumara mungkin sebuah cerita yang berhubungan dengan Bima boleh jadi telah dipertunjukan sebagai sebuah teater bayangan (sekarang: wayang purwa). Dari mana asal-usul wayang, sampai saat ini masih dipersoalkan, karena kurangnya bukti-bukti yang mendukungnya. Ada yang meyakini bahwa wayang asli kebudayaan Jawa dengan mengatakan karena istilah-istilah yang digunakan dalam pewayangan banyak istilah bahasa Jawa.

Continue reading

Jati Diri Kepemimpinan Kresna (20)


Kresna Sungging

Raja Kresna duduk di atas singgasana, dihadap oleh Wisnubrata, Patih Udawa dan Setyaki. Datanglah Patih Sengkuni utusan Suyudana, raja Ngastina. Kresna diminta menghadiri dan menjadi saksi penobatan Bagawan Sabdajati yang diangkat sebagai pujangga istana, menggantikan Pendeta Drona. Pendeta Drona telah lama pergi meninggalkan kerajaan Ngastina. Kresna sanggup menghadiri upacara itu. Kemudian ia masuk istana untuk berpamitan kepada para isteri. Wisnubrata dan Satyaki diserahi menjaga istana Dwarawati. Kresna dan Sengkuni berangkat menuju Ngastina.

Raja Baladewa datang di Dwarawati, disambut oleh Wisnubrata, Patih Udawa dan Satyaki. Setelah diberi tahu bahwa raja Kresna ke kerajaan Ngastina, Baladewa berpamitan akan menyusul ke Ngastina.

Raja Suyudana dihadap oleh warga Korawa, Adipati Karna, Indraswara dan Bagawan Sabdajati. Datanglah Patih Sengkuni bersama Kresna. Raja memberi tahu tentang rencana pengangkatan pujangga istana. Kresna mengusulkan agar jabatan pujangga diberikan kepada orang lain. Ia tidak setuju bila Sabdajati diangkat menjadi pujangga Ngastina. Terjadilah perdebatan antara Kresna dengan Bagawan Sabdajati. Mereka bertentangan pendapat. Kresna pergi meninggalkan pertemuan. Bagawan Sabdajati marah, Kresna pun dikejarnya. Di tengah jalan bagawan tersebut berjumpa raja Baladewa dan pengawalnya. Terjadilah perdebatan antara Baladewa dengan Bagawan Sabdajati. Mereka berkelahi. Baladewa terkena sabda sang Bagawan, dan berubah wujud menjadi patung. Satyaki yang membelanya juga terkena sabda, dan berubah menjadi pohon tal putih, berdiri di tengah jalan.

Arjuna dan panakawan mengembara di hutan, mencari Yudhisthira dan Wrekodara yang telah lama meninggalkan kerajaan Ngamarta. Di tengah hutan, Arjuna dikeroyok raksasa, tetapi raksasa dapat dikalahkan.

Dhang Hyang Drona tengah berdiri di tepi samodera, merenungkan perselisihannya dengan raja Suyudana. Ia ingin menjabat pujangga istana, tetapi raja berkehendak Drona menjadi brahmana kerajaan. Datanglah Bathari Pramoni. Ia memberi nasihat agar Drona hidup menyamar, sehingga cita-cita Drona bisa tercapai. Bathari Pramoni mengubah Dhang Hyang Drona menjadi Garuda, diberi nama Mintasih. Bathari Pramoni minta agar Garuda selalu memberi pertolongan kepada orang-orang yang sedang kesusahan.

Dalam perjalanan Arjuna bertemu dengan Kresna. Kresna bercerita tentang hal ihwal yang terjadi di Ngastina. Mereka setuju menuju ke Ngastina. Di tengah perjalanan

krisna20

Kresna merasakan bahwa patung dan pohon tal putih yang ada di depannya itu pada mulanya adalah manusia. (karya Herjaka HS)

mereka melihat patung dan pohon tal putih. Mereka heran. Kresna mengamat-amati dengan seksama. Ia mengira patung dan pohon itu semula manusia. Patung dan pohon tal lalu disayembarakan, siapa yang dapat mengembalikan ke wujud semula akan dipenuhi segala permintaannya. Garuda Mintasih mendengar, lalu menghadap Kresna. Garuda minta ijin akan mengembalikan wujud patung dan pohon tal. Berhasillah usaha Garuda, patung dan pohon kembali menjadi raja Baladewa dan Satyaki. Karena kesaktian Kembang Wijayakusuma, Garuda berubah menjadi Dhang Hyang Drona. Namun Dhang Hyang Drona minta mati. Kresna membuat lukisan yang menggambarkan Aswatama mati diinjak Gajah Putih. Dikatakan oleh Kresna, di situlah Dhang Hyang Drona akan mati. Kemudian Kresna, Baladewa, Arjuna dan Panakawan pergi menuju kerajaan Ngastina.

Continue reading

Jati Diri Kepemimpinan Kresna (19)


Kresna Begal

Kresna raja Dwarawati duduk di Pancaniti, dihadap oleh Samba, Wresniwira, Patih Udawa dan pegawai istana. Mereka membicarakan kepergian Harjuna dari Madukara. Kresna ingin berkunjung ke Ngamarta. Patih Udawa diminta mempersiapkan kepergian raja. Kresna meninggalkan balai penghadapan lalu masuk istana, memberi tahu rencana kepergiannya kepada para isteri. Rukmini, Jembawati dan Setyaboma menyambut kedatangan Kresna. Di hadapan para istrinya, Kresna menyampaikan berita tentang kepergian Arjuna dan rencana kunjungan ke Ngamarta.

Arwah tokoh Ngalengka turun ke Marcapada lagi. Raja Dasakumara duduk di balai penghadapan, dihadap oleh Indrajit, Trisirah dan pegawai raksasa. Raja ingin beristeri Retna Dewi Puspitawara, anak Darmamuka raja Slagaima. Indrajit diberi tugas mencarikan putri raja itu. Indrajit menyanggupinya. Ia menugaskan Kala Wahmuka, Kala Pradiyu dan Kala Bisana untuk melamar ke Slagaima. Sedangkan Raja Dasakumara pergi mencari raja Kresna.

krisna19

Di tengah perjalanan, Kresna dicegat oleh arwah Dasamuka yang bernama Dasakumara. (karya Herjaka HS, 2008)

Darmamuka raja Slagaima berbincang-bincang dengan putra raja bernama Jayapuspita, Patih Jayasudarna dan para pembesar kerajaan. Mereka membicarakan lamaran raja Dasakumara. Jayapuspita ditugaskan mencari perlindungan. Di pertengahan jalan mereka bertemu dengan utusan dari Tawanggantungan. Terjadilah perkelahian, tetapi Jayapuspita menyimpang jalan mencari selamat.

Arjuna tengah bertapa di gunung Candhirinengga, dengan nama Bambang Madusekti. Jayapuspita dan Patih Jayasudarma datang. Mereka berdua minta kesediaan Bambang Madusekti untuk melindungi Kerajaan Slagaima. Bambang Madusekti menyanggupinya lalu berangkat, dikawal oleh para punakawan. Jayapuspita dan Patih Jayasudarma menyertainya. Di tengah hutan mereka dihadang oleh raksasa dari Tawanggantungan. Terjadilah perkelahian. Raksasa dapat dikalahkan oleh Bambang Madusekti.

Continue reading

Sangkan Paraning Dumadi


Kedaulatan Rakyat 27/01/2008 05:36:48

Yen sira waskita, sampurna ing badanira, sira anggegurua. BEGITULAH salah satu baris ajaran dalam Serat Wulang Reh yang dikutip Agung Webe dalam buku Javanese Wisdom: Berpikir dan Berjiwa Besar, yang diterbitkan Indonesia Cerdas tahun 2007 lalu. Artinya, apabila engkau ingin bijaksana, mencapai kesempurnaan dalam hidupmu, maka bergurulah.

Dalam buku tersebut, lebih lanjut disebutkan, bagi pemimpin, berguru bisa dengan siapa saja. Siapa saja bisa merupakan guru karena apapun yang ada di alam semesta ini akan selalu memberikan petunjuk bagi siapa saja yang mau membaca. Dalam berguru, kita diajak untuk tidak sombong, mau mendengarkan orang lain, berpikiran terbuka. Pemimpin yang bijaksana akan belajar dari siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

semar_cirebon1

Kalau kita cermati, masyarakat tradisional Jawa selalu mengajarkan nilai-nilai adiluhung kepada anak-anak mereka lahir ke dunia, yang semuanya bermuara ajaran agar kita selalu eling sangkan paraning dumadi. Sejak bayi lahir, biasanya orangtua telah mengajarkan nilai-nilai luhur dengan simbol-simbol yang diwujudkan sebagai ubarampe upacara ritual, seperti kenduri. Misalnya dalam upacara selapanan atau sepasaran bayi, di antaranya ada golong sasupit kinamping sekul suci. Itu merupakan simbol untuk mengingatkan kita kepada empat sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Abubakar, Umar, Usman dan Ali. Kemudian sekul suci ulam lembaran sari untuk memuliakan Kanjeng Nabi Muhammad (SAW), juga untuk Nabi Rasul sekaligus sebagai simbol permohonan agar orangtua si jabang bayi mendapat keselamatan.

Continue reading