Audio Wayang Ki Sugino Siswocarito


Ki Sugino adalah salah seorang dalang dari Banyumas.

ki-sugino-siswo-carito-2

MP3 wayang Ki Sugino Siswocarito yang sudah di upload :

  1. Babad Alas Mertani
  2. Wisodewo Kromo

Berikut ada berita tentang gagrag Banyumas :

Membeo, Gagrag dan Pakem Pedalangan

  • Oleh Soediro

MENARIK, sekaligus menggeletik, berita yang dimuat Suara Merdeka (15/2/2008) dengan judul Dalang Banyumas Dinilai Membeo. Berita ini menimbulkan pro dan kontra, justru karena ada beberapa hal yang layak untuk dikemukakan.

Dalam berita itu telah terjadi kesalahan cukup fundamental, dipandang dari ilmu jurnalistik. Selain ada kesalahan cetak (masih dalam batas kewajaran), juga ada kesalahan tekstual serta kesalahan ”letak” fakta terbalik).

Dalam foto pendukung terdapat keterangan pentas dalang Ki Sugito di Baturraden; mestinya pentas Ki Bagus Marwoto. Sedangkan di tubuh berita disebutkan Ki Sugito Purbocarito adalah dalang pakem, sementara Ki Sugino Siswocarito dalang kreatif. Di sinilah kesalahan letak, karena data yang benar justru sebaliknya.

Tanpa berniat menghakimi, berita ini tidak disertai check and recheck. Apalagi narasumbernya kurang tepat. Materi berita tentang pedalangan Banyumas, tetapi tak semua tokoh yang diwawancarai berprofesi sebagai dalang. Misalnya, pelawak kok ”dipaksa” berkomentar tentang pedalangan.
Dipertanyakan juga, mengapa Ki Sugino dan Ki Sugito tak diwawancarai? Jika ada istilah the bad news is the good news, maka berita tersebut lebih tepat disebut the news with the bad marks, dan tentu saja bukan the good news.

Terpancing berita ini, Ki Bagus Marwoto angkat bicara. Lalu muncullah berita tanggal 18 Februari lalu, berjudul Tak Mungkin Utuh Berdialek Banyumas. Dalang muda Banyumas ini terkesan hanya menanggapi komentar Drajat Nurasongko, sekretaris Dewan Kesenian Banjarnegara.

Menurut Marwoto, jika dalang Banyumas menggunakan dialek banyumasan, itu hanya tepat untuk memerankan tokoh tertentu agar lebih komunikatif. la mengatakan, bahasa bandek (bahasa keraton–Red) atau bahasa Jawa standar Surakarta/Yogya adalah bagian dari pakem. Soal tudingan membeo yang ditujukan kepada dalang Banyumas, Marwoto mengatakan, ”Membeo merupakan hal yang tak dapat dihindarkan dari proses peniruan dalam kesenian”.

Hak Koreksi

Tulisan ini merupakan klarifikasi dari kedua berita tersebut, sesuai dengan amanat pasal 1 (angka 12) UU No 40/1999 tentang Pers. Pasal ini mengatur hak koreksi, yang menjadi hak setiap orang untuk mengoreksi / membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan pers, baik tentang dirinya maupun orang lain.

Sebagai salah seorang pengurus Pepadi Banyumas, saya ingin mengoreksi substansi berita tanggal 15 Februari. Sepengetahuan saya, gagrag (bisa diartikan versi atau model) adalah istilah yang digunakan dalam dunia pedalangan untuk membedakan gaya pedalangan antara daerah yang satu dan daerah lain.

Misalnya gagrag Surakarta, Mataram (Yogyakarta), dan Banyumas. Versi pedalangan tersebut secara spesifik dapat dikenali perbedaannya, baik dalam penokohan, gending, maupun sajian khusus yang melahirkan nuansa berbeda dalam cita rasa seni.

Ki Manteb Sudharsono dalam sebuah saresehan di Banyumas pernah mengatakan, gagrag Surakarta terkesan anggun dan agung. Gagrag Mataram mrenes (segar, menggelitik dan mengesankan), sedangkan gagrag Banyumas terkesan ramai.

Kesan ini disebabkan perbedaan-perbedaan seperti disebutkan di atas. Pencinta pedalangan dengan mudah bisa membedakan ketiga gagrag itu, saat menyaksikan langsung atau mendengarkan secara audio.

Apabila pertunjukan wayang kulit menggunakan satu keprak (lembaran logam tipis dari besi, kuningan, perunggu), dengan suara ”ting.. ting.. ting..” yang beradu dengan bungkul (logam kecil bulat-panjang, dijepit di antara ibu jari kaki sebagai pemukul keprak), dapat dipastikan pentas ini bergaya Mataram. Jumlah keprak banyak (biasanya lima), tanpa bungkul, berarti bergaya Surakarta. Nah, gagrag Banyumas menggunakan tiga lembar keprak dengan bungkul.

Selain itu, penokohan dari ketiga gagrag itu juga sering berbeda. Tokoh Pandhita Durna di Banyumas digambarkan berperangai amat buruk. Sedangkan dalam gagrag Surakarta dan Mataram, tokoh yang buruk justru Patih Harya Sangkuni. Tokoh Bawor dalam gagrag Banyumas adalah anak pertama dari Semar. Sedangkan di Surakarta dan Mataram, Bagong adalah anak terakhir.

Contoh lain, Raden Werkudara di Banyumas memiliki empat orang anak. Di Mataram tiga, bahkan di Solo hanya dua anak. Inilah gambaran singkat mengenai gagrag pedalangan Surakarta, Mataram dan Banyumas.

Pembakuan Dialek

Tudingan membeo (dialek Surakarta dan Mataram) juga menjadi persoalan tersendiri. Sampai saat ini belum ada pembakuan dialek dalam dunia pedalangan. Bahkan dalam buku Pathokan Pedalangan Gagrag Banyumas (Senawangi, 1983), belum ada ketentuan mengeni hal itu.

Jika yang dimaksud membeo adalah meniru dalang kondang Ki Sugito dan Ki Sugino, itu bukanlah hal tabu. Di Solo, sebagian besar dalang muda juga meniru penampilan Ki Manteb dan Ki Anom Suroto. Di Yogya, gaya Ki Timbul Hadiprayitno atau Ki Hadi Sugito (alm) juga kerap ditiru.
Dalang senior yang diidolakan masyarakat memang cenderung diikuti gayanya, tentu dengan aplikasi yang inovatif dan kreatif oleh dalang-dalang muda. Inilah yang membedakannya dari istilah membeo: sekedar meniru, layaknya burung beo.

Bagaimana dengan pakem? Menurut Sujamto, dalam buku Wayang dan Budaya Jawa, pakem menyangkut tata gending, irama gamelan, tata urut penyajian adegan, pembakuan jalan cerita, pembakuan watak, pembakuan bentuk wayang, pembakuan etika wayang, pembakuan simbol-simbol pokok, pembakuan suluk, dan arahan terhadap aspek-aspek teknis tertentu.
Jadi, pada dasarnya pakem terkait dengan gagrag, di mana setiap daerah memiliki bentuk tersendiri (khas), meski cerita asli wayang kulit Jawa berada dalam bingkai yang sama, yaitu serial Mahabharata dan Ramayana dari India.

Jika sekarang masih memperdepatkan masalah gagrag dan pakem, kita akan kehilangan kesempatan untuk melangkah maju, justru ketika wayang diakui sebagai karya luhur di dunia. Apalagi kalau dialek pun dijadikan kambing hitam untuk menuding gaya dan penampilan dalang.

Dalang-dalang yang selama ini eksis menumbuhkembangkan seni pedalangan, dengan gagrag dan pakem apapun, adalah insan-insan yang layak dihormati, bukan oknum-oknum yang pantas dituding, dilecehkan, dan dimarjinalkan. Jika Anda pelaku pedalangan, berkreasi dan berkaryalah secara nyata. Jadilah pemain yang aktif, bukan sekadar penonton yang hanya pandai bersorak dan mengejek, tetapi tidak pernah berbuat apa-apa. (32)

- Soediro SH, ketua Pepadi eks-Kotatif Purwokerto.

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=3850

About these ads

4 thoughts on “Audio Wayang Ki Sugino Siswocarito”

  1. Kalo bisa upload mp3 nya yg memorinya rendah 10-12MB

    Biar bisa di download pk hp
    Hehehehe :-D

    Kalo ada yg durasi nya 2-3 jam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s