Ki Nartosabdo


Gending-gending Nartosabdhan, Tak Lekang Dimakan Zaman

Selasa, 14/08/2007 – 09:49 – dikirim oleh: fajar.

Saya terpaksa harus kecewa pada malam Minggu (7/7). Sebab, Widayat yang memerankan tokoh Gareng dalam pergelaran Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo dalam lakon Condro Birowo malam itu, tak menyanyikan lagu Swara Suling karya seniman besar asal Semarang, Ki Nartosabdho.

Ki Nartosabdho

Untuk mengobati kekangenan saya pada karya-karya Ki Nartosabdho, dalam perjalanan menuju ke penginapan, saya pun bersenandung lagu itu:

Swara suling, ngumandang swarane
Tulat-tulit…kepenak unine
U…unine.. mung nrenyohake
ba..reng lan kentrung, ketipung suling
sigrak kendangane…

(Suara seruling, bergema suaranya
tulat-tulit…enak bunyinya
bunyinya bisa melenakan hati
–jika berbunyi–bareng kentrung, ketipung
–ditambah–gendang yang rancak)

Mendendangkan swara suling, kenangan saya pun melayang-layang ke silam kelam, saat saya masih bermukim di Semarang. Ya…, betapa malam-malam minggu saya nyaris tak lepas dari kehadiran Pak Nartosabdho melalui RRI Semarang atau radio swasta niaga yang menyiarkan wayangan dengan dalang Ki Nartosabdho semalam suntuk.

Ki Nartosabdho bagi saya dan juga warga Semarang lainnya yang betah melek pada tahun 80-an–terutama pada malam minggu–adalah kawan sekaligus idola yang bukan saja menghibur, tetapi juga memeberikan nasihat-nasihat melalui lakon-lakon wayang kulit yang dibawakannya.

Itulah soal, saat saya mengiringi pemakaman beliau ke pemakaman Bergota, lewat kaca ambulans yang membawa jasad Ki Narto, saya melihat betapa masyarakat Semarang di sepanjang jalan berdiri takzim melepas kepergian dalang kampiun itu.

Keharuan saya pun pecah dalam titik air mata saat jasad Ki Nartosabdho disemayamkan di Gedung Ngesti Pandowo kala itu di Jalan Pemuda 116. Sebab ternyata, beliau pun telah menyiapkan sebuah komposisi untuk mengantar kepergiannya sendiri.

Lelayu, begitulah judul komposisi tua berjenis mijil yang dikreasi kembali oleh Ki Nartosabdho yang dibawakan oleh kelompok Condong Raos, grup gamelan pimpinan Ki Narto pada persemayaman tersebut.

Layu-layu, umiring sang kinkin,
sajroning patunggon sung sasanti sang dyah kamuksane
Nedya anut mring sang guru laki
Kang gugur madyaning palugon…

Mijil Lelayu terdengar, mengantarkan sang maestro ke alam kelanggengan. Lagu sedih itu telah menggugurkan sekalian tangis para budayawan, dalang, pengrawit, pesinden dan semua yang pernah dekat dengan sang kreator. Bahkan pengusaha jamu sekaligus musisi Jaya Suprana yang mengaku pernah belajar pada almarhum, tak lama setelah kepergian Pak Narto, menyempatkan diri menggubah sebuah komposisi berjudul Epitaph II bagi sang guru.

Hari memang sudah malam, tapi saya kepingin lebih jauh mengenang Pak Narto. Di simpang lima, tempat warga Semarang menghabiskan malam dengan sejumlah pedagang kaki-lima, saya pun memarkir mobil. Duduk di salah satu warung di Jalan Pahlawan, sambil minum kopi.

Tentang Ki Nartosabdho

Sunarto nama aslinya, lahir di Wedi, Klaten, Jawa Tengah, tanggal 25 Agustus 1925 dari keluarga kurang mampu. Ayahnya, Partinojo seorang pembuat sarung keris. Oleh karena kemiskinannya ini Sunarto kecil tak dapat melanjutkan sekolahnya setelah putus sekolah angka “telu’ pada Standart School Muhammadiyah.

Disudutkan pada situasi ekonomi yang sulit ini, Sunarto yang sudah beranjak remaja ikut menopang ekonomi keluarga dengan mencari uang melalui kemampuannya dalam bidang seni lukis. Merasa mampu pada bidang kesenian lainnya, dia pun kemudian turut memperkuat orkes keroncong “Sinar Purnama” sebagai pemain biola. Minatnya yang besar pada dunia kesenian ini lebih tampak lagi ketika dia melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik.

Terlebih-lebih setelah perkenalannya dengan Ki Sastrasabdho pada tahun 1945. Oleh pendiri Ngesti Pandowo ini Sunarto betul-betul ditempa kemampuannya dalam mengenali dan mendalami instrumen gendang.Lewat Ki Sastrasabdho pula, Sunarto mengenal dunia pewayangan. Maka sejak itu pun Sunarto belajar mendalang .

Antara Ki Sastrosabdho dan Sunarto adalah ibarat “Warangka manjing curuga, curiga manjing warangka”, keduanya adalah satu kesatuan sebagai anak dan bapak. Oleh karenanya kemudian Ki Sastrosabdho menganugerahi nama belakangnya kepada murid kinasihnya ini menjadi Nartosabdho.

Dari perjalanan hidupnya tersebut tampak bahwa Ki Nartosabdho telah melalui proses yang panjang dalam berkesenian . Jiwanya jadi kaya lantaran dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman batin baik dalam hidup maupun dalam berkesenian.

Pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan masyarakat telah memperkaya dirinya dengan berbagai pengetahuan, sampai-sampai Presiden Soekarno waktu itu menjadikan dirinya sebagai dalang kesayangannya.

Gending-gending Nartosabdhan

Perjalanan hidupnya yang liat dan panjang, terpancar jelas pada karya-karya gendhingnya yang memiliki karakter khas milik Ki Nartosabdho. Oleh sebab itu tak heran jika gendhing-gendhingnya mendapat istilah “Gendhing-gendhing Nartosabdhan”.

Ki Nartosabdho pula yang mendapat istilah sebagai seniman yang memiliki Tri Karsa Budhaya. Sebuah istilah yang dicetuskan oleh Sekretariat Pewayangan Indonesia itu memliki makna: menggali, mengembangkan, dan Melestarikan kebudayaan Nasional.

Dengan kesadaran Tri Karsa Budhaya inilah Ki Narto berjalan di belantara kesenian Indonesia . Beberapa lagu rakyat yang sempat dia gali antara lain, Kembang Glepang Banyumasan, Mijil Lelayu, Jurang Jugrug, Gudril dan lain-lain. Bersama perkumpulan Karawitan “Condong Raos” yang dia pimpin Ki Narto mengolah lagu-lagu kuna itu menjadi segar kembali.

Dalam melaksanakan Tri Karsa Budhaya ini Ki Narto bukannya tanpa mengalami rintangan, pada pertengahan pemunculannya bahkan sampai ada salah satu RRI yang tidak mau memutar gendhing-gendhing karyanya.

Namun dengan kegagahan seorang kreator yang tahan uji, Ki Narto malah tambah getol dalam mencipta dan berkreasi. Pandangannya yang moderat telah membuka wawasan berpikirnya lebih luas termasuk dalam mempelajari budaya Jawa.

Akhirnya, hampir pada setiap produk gendhing gendhingnya yang tersaji bersama perkumpulan karawitan “Condong Raos”, segera saja meledak di pasaran, terlebih lebih karena para dhalang yang sefaham dengan Ki Narto juga ikut mengembangkannya melalui seni pakelirin, maka otomatis gendhing-gendhing Nartosabdhan ini makin memasyrakat.

Sebut saja misalnya, siapa yang tak mengenal gendhing “Lesung Jumengglung”? atau juga gendhing Ampat Lima. Ditambah lagi di tahun-tahun akhir menjelang kepergiannya, Ki Narto juga menciptakan gendhing yang elok yakni Wawasan Identitas Jawa Tengah. Begitulah, gendhing-gendhing Nartosabdhan akhirnya menjadi air deras yang tak dapat dibendung. Dia mengalir terus menapaki waktu, bahkan hingga kini.

Sepertinya para seniman karawitan sepakat mengistilahkan karya-karya gending Ki Nartosabdho dengan sebutan gendhing-gendhing Nartosabdhan. Betapa tidak, dari dalang termasyur ini lahir ratusan karya gendhing yang menempatkan dirinya sejajar dengan seniman-seniman besar yang dimiliki oleh negeri ini.

Istimewa

Bukan cuma lantaran banyaknya jumlah karya yang telah dihasilkan (319 gending) sehingga gendhing-gendhingnya mendapatkan tempat yang istimewa di hati para seniman karawitan, budayawan, dalang maupun waranggana, namun secara kualitas nampaknya memang belum ada kreator lain yang mampu menandinginya.

Ini tak berlebihan, seperti yang saya ingat menjelang pemberangkatan jenazah Ki Narto dari rumah duka di Jalan Anggrek X, dari penuturan dalang ki Anom Soeroto, Ki Timbul, Nyi Suharti, mereka mengaku bukan cuma kagum terhadap karya-karya almarhum, namun juga merasa pernah menjadi murid baik secara langsung maupun tak langsung dari seniman besar itu.

Adapun karakteristik yang terkandung di dalam gendhing-gendhing Nartosabdhan dapat ditandai lewat lagu lagu maupun gendhingnya yang berisi beberapa hal, misalnya, adanya unsur gregel seperti yang tertuang pada cakepan (syair) lagu Dhandhang Gula Sida Asih.

Adanya wiled (cengkok yang menunjukkan naik turunnya titi laras), hal ini nampak betul pada setiap lagu yang memasuki interlude. Sigrak, hampir setiap lagon (jenis gending yang terlepas dari Subokasto: Gending, Ketawang, Ladrang dan Lancaran), dan lain-lain, di dalamnya terkandung unsur dinamis yang merangsang orang yang mendengarnya untuk hanyut dalam lagu-lagu tersebut.

Sebagai contoh dari lagu yang memiliki unsur-unsur di atas misalnya tampak pada lagu kinudang Kudang. Lagu ini bukan saja memiliki unsur-unsur termaksud, namun juga memiliki keiistimewaan yang tak dimiliki oleh lagu-lagu lainnya, karena di dalam lagu ini terkandung pula obsesi pengarangnya kepada seseorang yang dikaguminya dari segi kemampuannya menyinden. Simaklah syair ini :

Kinudang kudang

Kinudang kudang tansah bisa leladi
Narbuka rasa tentrem angayomi
Tata susila dadi tepa tuladha
Sababe dek iku sarawungan kudu
Dadi srana murih guna kaya luwih
Ngrawuhi luhuring kabudayan
Tinulat sakehing bangsa manca
Tinulat sakehing bangsa manca
Rahayu sedya angembang rembaka

Jika kita urut dari atas ke bawah, maka akan berbunyi: Ki Nartosabdho – Ngatirah. Dan masih banyak lagi lagu-lagu sejenis di atas yang menurut saya juga berguna untuk menyelamatkan karya-karya Ki Nartosabdho dari para plagiat. Sebab ternyata, ia juga seorang seniman yang cerdik yang menyadari hak patent, jauh sebelum ada Yayasan Karya Cipta Indonesia.

Ah…, hari telah menjelang pagi. Suara pengajian di Masjid Baiturrahman telah berkumandang. Saya mesti bergegas pulang ke penginapan untuk tidur sejenak. Sebab pada siangnya, saya mesti kembali ke Jakarta. (jodhi yudono)

Sumber:
http://www.kompas.co.id/ver1/Negeriku/0707/30/183217.htm

About these ads

27 thoughts on “Ki Nartosabdo”

  1. Saya termasuk pengagum dan pecinta Ki Narto, dulu di saya banyak mengoleksi kaset wayang Ki Narto, dan rutin mendengar wayang Ki Narto melalui Radio setiap malam minggu, sehingga karena Beliau saya banyak tahu ceria Wayang. Saya bangga dengan Ki Narto yang menempatkan wayang menjadi tontonan yang penuh makna dan hiburan tidak seperti dalang sekarang yang hanya mencari uang dan merusak keadiluhungan wayang. Saya berharap Ki Narto – Ki Narto generasi baru akan segera bermunculan agar budaya jawa lestari terpelihara.

  2. Wah saya penggemar berat Nartosabdho. Wayangnya disungging dengan prada mas, gamelannya tidak ada nada yang salah sedikitpun. Andai aku kaya aku akan mengoleksi seluruh karya beliau.

  3. Saya guru bahasa Jawa merasa sangat perlu mempelajari seni karawitan dengan sungguh-sungguh. Jadi mohon partitur cara memainkan alat music(gamelan) gender, bonang, dan seterusnya. Terima kasih.

  4. Jika sudah ada situs penyedia cara memainkan gamelan mohon saya diberitahu, demi kami, yang peduli budaya Jawa. Sementara di luar negeri ini ternyata sudah di pelajari dengan sungguh-sungguh. tolong kirim info ke sigit.satata@plasa.com TERIMAKASIH

  5. Sampai sekarang saya belum punya dalang idola pengganti Pak Narto. Setelah beliau wafat saya nguber-nguber kasetnya, walau waktu itu terasa mahal harganya. Tapi sayang hanya ada beberapa lakon saja yang saya dapat. Alangkah bahagianya saya sekarang dapat ngunduh di situs wayang prabu. Matur nuwun yang tak terhingga. Semoga dialam lain saya bisa ketemu beliau untuk melanjutkan cerita tentang wayang.

  6. di tahun 70 dan awal tahun 80an beliau sering pentas dalang stasiun TVRI.barang kali dari pihak TVRI masih ada filenya bisa kita minta.dan kalo ada biayanya mungkin bisa kita tanggung bersama bagi penggemar narto sabdo.

  7. saya mau cari kaset/cd KESNO GUGAT dalangnya Ki Nartosabdo, dimana ya saya bisa mendapatkannya.
    thanks.

    ____
    Kan sudah ada filenya mas …
    tinggal di bakar di cd jadi dech …
    Matur nuwun

  8. Wah sae menika Mas. Lajeng menawi lirik ipun lelagon Keplok Alok menapa wonten njih? Menawi wonten, kalilan macak wonten mriki, inggih? Prayogi menawi ugi sak gendhingipun ingkang saged dipun undhuh. Maturnuwun sanget.

    ____
    “Keplok Alok” … rasanya saya belum pernah menemukan
    Saya sebenarnya wonten keinginan ingkang belum kesampaian hingga sakniki
    yaitu mengumpulkan semua karya KNS dan membuatnya dalam satu database khusus
    Namun karena keterbatasan saya, baru sedikit yang saya collect
    Nuwun

  9. Nuwun sewu Para Pandhemen Ki Narto Sabdo,

    sebenarnya ada lg satu Tokoh Besar Guru Ki Narto Sabdo yaitu Ki Pujo Sumarto (Kwoso, Klaten). Beliau Dhalang Kesayangan Bung Karno Presiden RI-1.
    Ki Narto Sabdo Belajar Seni Pedhalangan dari beliau…

    Nuwun.

    1. Bicara tentang Ki Pujo Sumarto, saya jadi ingat ketika pulang dari sekolah di SMA 1 Klaten selalu lewat desa Kwoso. Kebetulan juga, rumah ki Pujo berada di pinggir jalan dan saya sering melihat beliau sambil tiduran memegang wayang mungkin juga memainkan tokoh wayang Gatot kaca. Konon ceritanya jika beliau memainkan tokoh tersebut penonton sangat terkagum – kagum. Terakhir saya mendengarkan siaran langsung dari RRI Surakarta dengan lakon Babat Alas Wonomarto, walaupun belaiau waktu itu sudah sangat sepuh tapi dari sisi pendramaan saya bisa larut dalam cerita itu.
      Ketika beliau sudah meninggal dan saya telah tinggal di Bandung, RRI Jakarta pernah menyiarkan rekaman wayang dengan dalang Ki Pujosumato. Rekaman sang guru ini mungkin bisa dilacak di RRI Jakarta.

      1. Sebuah informasi dan pengalaman yang penting dari Pak Kamtono.
        Terus terang saya jadi ingin menikmati salah satu rekaman dari beliau
        Matur nuwun

  10. Nuansa pagelaran walau saya dengarkan lewat kaset dapat membawa saya terhanyut dalam lakon yang dibawakan penuh dengan kaya sastra, karismatik, berkepribadian saya sangat setuju jika beliau Ki Narto Sabdho Alm sebagai Bapak ” TRI KARSO BUDOYO”

  11. membaca tulisan mas kamtono diatas yang sehobi pengagum ki narto sabdo saya telah mengoleksi beberapa kasetnya, banjaran karno, banjaran bismo, wirotho parwo, dan beberapa gending gilingnya. Hanya saja saya pingin sekali CD wayangan ki Narto Sabdo.

  12. wanto ,saya termasuk pengagum Ki Narto Sabdo….tolong kalao
    ada cd/dvd lakon wayang banjaran Karno,sampai dengan lakon barotoyudo joyo binangun ,
    Matur nuwun

  13. Saya (sy) sungguh terkesan, ada ‘pemerhati’ Ki Nartosabdo & membuat blog ini..sy berterimakasih skali sm mas(ms) Prabu krn sy jg pengagum Ki Nartosabdo..Gending yg sy suka dr beliau di antaranya Mbok ya Mesem, Swara Suling, & Prau Layar.. Ijinkan sy sdikit sharing sbg pengagum beliau ini ya ms? Beliau memang sbg empu pedalangan (scr tak langsung jg dianggap tokoh karawitan jg) yg kreatif, sepak terjangnya hingga kini belum ada yg bs tergantikan-Ki Manteb Sudharsono pun bilang demikian..Sayang, ada 1 hal yg di mana riwayat kehebatan beliau tdk diimbangi dg ‘penghargaan’ sebagian masyarakat.. Lagu “Swara Suling”,baik judul bahkan liriknya tergantikan dg judul “Gambang Suling”..Sy tak tahu awal munculnya kesalahkaprahan ini (sy sendiri brtanya2 knapa bs demikian??) & fatalnya lagi judul “Gambang Suling” bner2 menggeser hbis judul aslinya “Swara Suling” sehingga masyarakat terlebih anak2 di sekolah lebih mengenal dg judul “Gambang Suling”..Dimana2,buku2 musik daerah yg sy baca bahkan sebagian besar website jg ikut menggembargemborkan nama “Gambang Suling” ketimbang yg aslinya.. Sy prnah perjuangkan hal ini pd salah 1 koran yg ada di Jogja+sy luruskan lewat catatan di fesbuk, hasilnya nol..Ironisnya, empat hari setelah sy tulis di fesbuk: fenomena “Gambang Suling” tambah menjadi2 krn ada 1 kelompok dr Solo & kelompok yg Surabaya menampilkannya di festival/perayaan kesenian besar-masyarakat tetap membenarkannya.. padahal mnrt sy,tidak mengutak-atik judul & lirik yg asli jg adalah tanda kita menghormati/menghargai hsil karya seniman/komposernya..Prihatin skali ms sm kondisi tsb..Mohon saran & solusinya klo ada ato paling tdk tanggapan atas hal ini (duuh,sy sudah judeg)..trimakasih & maap klo ada salah kata..

    ~Salam Budaya~

  14. Saya juga ingin mengoliksi tembang tembang ciptaan Ki Nartosabdho tapi di mana tempat untuk mendapatkannya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s