Wayang Yogyakarta dan Surakarta


wayang-perang

PENDAHULUAN

Jika kita melihat suatu pertunjukan wayang kulit baik melalui televisi maupun secara langsung biasanya kita hanya tahu bahwa itu merupakan sebuah boneka wayang yang sama saja namun sesungguhnya berbeda. Meskipun kesemuannya wayang kulit namun ada berbagai macam wayang. Contohnya wayang gagrak/gaya Surakarta, Yoyakarta, Jawa Timuran, Banyumasan, Cirebonan, Palembang dan lain-lain semuanya memiliki perbedaan dan memiliki ciri yang khas.

Pagelaran Wayang Kulit adegan Jejer Pandawa

Setelah Wayang mendapat penghargaan sebagai warisan budaya dunia dari UNESCO, rasanya sangat penting bagi kita untuk terus melestarikan wayang yang ada. Banyaknya jenis wayang yang telah punah seperti wayang Banjar, dan wayang Palembang membawa keprihatinan di dalam diri pencinta wayang sendiri yang semakin lama semakin menurun.

Di dalam buku ini sendiri saya hanya akan membahas perbedaan yang ada dalam boneka wayang dari Surakarta dan Yogyakarta yang jarang sekali diperhatikan perbedaannya.
Tentu saja masih banyak perbedaan yang dapat kita temukan dalam dunia pewayangan yang dapat dibahas lebih lanjut. Namun di sini saya hanya akan membahas tentang perbedaan fisik wayang dari kedua daerah tersebut, bukan
gaya pedalangannya. Meskipun buku ini masih sangat dangkal jika kita melihat secara keseluruhan dunia pewayangan karena banyaknya wayang wayang yang masih eksis dalam kehidupan seperti wayang menak, wayang golek, wayang gedok dan lain-lain, namun diharapkan dengan adanya buku ini, para pencinta wayang sadar akan beraneka ragamnya kebudayaan yang kita miliki dan diharapkan pula buku ini menjadi tumpuan unuk penulisan dan pembahasan keaneka ragaman budaya wayang lainnya. Jika kita lihat, wayang kulit purwa saja dari daerah Jawa Tengah memiliki beberapa gaya.

Pagelaran Wayang Semalam Suntuk oleh Ki Sukoco

Tujuan dari penulisan buku ini adalah sebagai sarana untuk mengembangkan pengetahuan tentang boneka wayang dan juga untuk menyadarkan bahwa kita memiliki beraneka ragam budaya yang sangat perlu untuk dilestarikan dan ini bukanlah suatu persaingan untuk menentukan mana yang unggul dan lebih baik karena dalam budaya seni tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk. Kesemuanya memiliki keunikan masing-masing sehingga janganlah pembaca salah menangkap bahwa penulisan buku ini hanya semata-mata mencari pengikut gaya mana yang lebih pantas dan lebih sempurna.

KRONOLOGI PEMBEDAAN WAYANG KULIT DI JAWA TENGAH

Pada mulanya, hanya ada satu jenis wayang di Jawa. Wayang tersebut berasal dari relief candi-candi yang ada di wilayah Jawa yang saat itu masih dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Saat itu tokoh-tokh pewayangan di gambar di atas daun tal atau daun lontar sehingga di kenal dengan nama wayang lontar.

Wayang lontar dan Wayang kulit awal Demak

Setelah Majapahit runtuh pada tahun 1478, berdirilah kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, dengan Raden Patah sebagai raja pertamanya dari tahun 1478-1520 mencipta wayang kulit dengan tangan masih menyatu dengan tubuhnya. Raden Patah kemudian digantikan oleh Prabu Sabrangan yang memerintah dari tahun 1520-1521. Prabu Sabrangan yang gemar dengan pertunjukan wayang lalu menciptakan wayang beber yang semua gambarnya telah diubah ke dalam gaya Islam karena saat itu Islam melarang pengikutnya melukis manusia secara realistik. Hal tersebut dianggap bertentangan dengan ajaran agama Islam. Sedang pola candi yang ada di Jawa di teruskan dalam pola wayang kulit di Bali.

Setelah masa kejayaan wayang Beber lewat, munculah sosok-sosok Wali Songo yang secara giat menyebarakan ajaran Agama Islam. Sunan Kalijaga lalu mencipta wayang dari kulit kerbau yang ditatah dengan menggunakan gapit sebagai pegangan. Namun tangannya masih menyatu dengan tubuh. Wayang tersebut dibuat menjadi satu kotak dan diwarna hanya dengan warna hitam. Jumlah wayang di buat cukup untuk menyampaikan cerita-cerita Mahabarata dan Ramayana yang sudah di sesuaikan kedalam ajaran Islam selama semalam suntuk.

Wayang Beber

Pada tahun 1521, jumlah wayang diperbanyak dengan adanya wayang-wayang ricikan seperti gunungan dan binatang serta adanya perubahan dengan tangan yang sudah dapat digerakkan. Pertunjukan pun mulai menggunakan kelir, debog, dan blencong. Selain itu wayang yang tadinya masih berwarna hitam puith mulai diwarnai. Dan pagelaran mulai memakai istilah simpingan.

Simpinagan Kiri dan Kanan

Kerajaan Demak yang runtuh kemudian digantikan oleh kerajaan Pajang. Jaka Tingkir sebagai raja Pajang mulai memperkenalkan Wayang Kidang Kencana yang memiliki ukuran sedikit lebih kecil dari wayang kulit umumnya. Di sinilah pertama kalinya digunakan istilah ngore, topongan, gelung dan sebagainya.

Pada awal pemerintahan Kerajaan Mataram, Panembahan Senopati menambahkan wayang Garuda dan Gajah untuk pelengkap pertunjukan. Saat ini pula lah rambut mulai ditatah halus. Wayang inilah yang sekarang dikenal sebagai wayang gagrak/gaya Mataraman.

Pada masa pemerintahan Mas Jolang, Wayang kembali diperbesar. Dengan mulai menggunakan istilah wanda pada wayang-wayang tertentu.

Setelah jaman pemerintahan Sultan Agung, tepatnya zaman pemerintahan Amangkurat Tegal Arum, pakem pedalangan kemudian pecah menjadi dua. Yaitu Gaya Kanoman oleh Nyi Anjang Mas dengan penggunaan sepatu, jubah, dan keris pada wayang dewa dan pendeta yang beroprasi di wilayah timur. Gaya yang satu lagi adalah gaya Kasepuhan oleh Kyai Panjang Mas. Gaya pedalangan ini menghilangkan Bagong karena mendapat larangan dari pemerintah Belanda. Bagong dianggap sebagai orang yang lancang mulut dan sering mengkritik pemerintahan Belanda di Jawa.

Anoman Gaya Surakarta

Pada pemerintahan Pakubuono III pusat pemerintahan Mataram dipindah dari Kartasura ke Surakarta. Ini adalah masa peralihan dari gaya Mataraman ke jaman Surakartan. Perubahan ini terlihat dengan diubahnya bentuk kera dan raksasa sehingga hanya bermata satu. Selain itu wayang gaya Surakarta juga di peramping sehingga memudahkan dalang dalam melakukan sabet atau olah wayang.

Anoman Gaya Yogyakarta dan Gaya Mangkunegaran

Pada masa pemerintahan Pakubuono IV, terjadi perselisihan antara golongan tua dan muda. Golongan tua yang dikepalai oleh Pangeran Mangkubumi menyatakan perselisihannya terhadap Pakubuono IV yang mau bekerjasama dan mengakui kedaulan pemerintahan Belanda atas kerajaan Mataram. Akibat dari perjanjian Giyanti, Mataram di pecah menjadi dua yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta. Pangeran Mangkubumi lalu menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono I. Sebagai golongan tua, kemudian Mangkubumi mengembangkan wayang gaya Mataraman sedangkan Pakubuono IV mengembangkan wayang gaya Surakarta atau sekarang lebih tenar dengan nama wayang gaya Solo. Lebih lanjut, Kasunanan Surakarta yang kemudian pecah lagi menjadi Kasunanan Solo dan Mangkunegaran. Oleh Mangkunegara I, wayang gaya Solo lalu di perbesar. Pada wayang gaya Yogyakarta pun lalu terjadi perubahan dengan adanya gaya baru yaitu wayang Paku Alaman yang masih mempertahankan bentuk gaya Mataram namun kebanyakan wayangnya menggunakan keris.

PEMBEDAAN SECARA UMUM PEWAYANAN GAYA YOGYAKARTA DAN SURAKARTA
Dalam bab ini saya akan mengungkapkan secara singkat tentang perbedaan pewayangan gaya Yogyakarta dan Surakarta yang agak kurang diperhatikan dalam dunia pewayangan masa kini mengingat penurunan minat yang ada pada generasi muda yang hanya akan melihat wayang sebagai suatu perwujudan yang aneh karena tidak ada makhluk yang memiliki bentuk seperti wayang. Pada umumnya, para penonton wayang masa kini hanya menunggu adegan goro-goro atau limbukan sehingga nilai estetis yang teradapat dalam wayang sendiri seolah menjadi hilang atau kurang diperhatikan.

Langusng saja masuk kedalam permasalahan, menurut beberapa sumber perorangan, wayang gaya Yogyakarta memiliki keindahan tersendiri karena perawakan wayang Yogyakarta yang terkesan kekar, sehingga tampak gagah dan indah sebagai hiasan dan juga memiliki kesan lebih dinamis jika dibandingkan dengan wayang Surakarta yang terkesan statis tertama wayang putrannya. Namun wayang Yogyakarta memiliki kelemahan yaitu dengan bentuk tubuh yang besar tersebut menyulitkan sang dalang dalam mempermainkan boneka wayang. Hal ini yang menyebabkan wayang gaya Yogyakarta menjadi sedikit membosankan dan kurang menarik jika dipergelarkan.

Raden Werkudara gaya Yogyakarta dan Surakarta

Sebaliknya, wayang gaya Surakarta yang memilik bentuk fisik yang ramping akan menjadi kurang berwibawa jika diamati, namun memiliki nilai keindahan tersendiri jika dimainkan dalam suatu pargelaran wayang karena dalang dapat dengan mudah menggerakkan dan mengendalikan boneka wayang sehingga pedalangan gaya Surakarta lebih menonjol.
Hal kedua inilah yang mendorong banyak dalang dari Yogyakarta yang memilih untuk memainkan wayang gaya Surakarta terutama wayang raksasa sehingga dalam adegan perang penampilannya menjadi lebih menarik. Tak dapat dihindari lagi hal tersebut yang membawa pewayangan zaman sekarang mulai berevolusi ke gaya baru yaitu campuran antara gaya Surakarta dan Yogyakarta. Hal ini jika kita pertimbangkan lagi memiliki sisi positif yaitu dengan adanya penggabungan ini macam kebudayaan yang ada akan semakin banyak. Namun hal yang perlu diperhatikan adalah banyaknya transformasi bentuk wayang tersebut akan mulai mamudarkan citra pedalangan klasik yang ada.

Kumbakarna gaya Campuran

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa kedua jenis wayang atau kedua jenis gaya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing secara merata.

Sergio Khatulistiwa

Quebec-Canada

About these ads

4 thoughts on “Wayang Yogyakarta dan Surakarta”

  1. Salut saluuuuut atas usaha “buat pelajaran tentang wayang”…sekaligus minta tolong Mas… Sekali waktu munculkan wayang kedu dll karena wayang bukan cuma Jogja-Solo, tentunya berikut gambr2nya….nuwun.

    _____
    Insya allah kalau ada yang bisa di sharing ya
    Makasih

  2. tapi anehnya, di kamus saya uny, yang terletak di Jogja, justru lebih suka mempertunjukan wayang gaya Solo, seperti kemarin waktu HUT HIMA jawa, kami justru menampilkan wayangan dengn gaya Solo.
    apa ada ciri lain yang lbh spesifik knpa orang2 lbh ska menggunkan gaya Solo?
    matur nuwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s