Abiyasa


Audio pagelaran wayang dengan lakon Abiyasa Lahir dapat dilihat di halaman “Ki Anom Suroto”. Sekilas tentang Abiyasa silahkan dibaca dari beberapa sumber.

http://id.wikipedia.org/wiki/Abyasa

Abiyasa atau Byasa (Sansekerta: Vyāsa) (dalam pewayangan disebut Resi Abyasa) adalah figur penting dalam agama Hindu. Beliau juga bergelar Weda Wyasa (orang yang mengumpulkan berbagai karya para resi dari masa sebelumnya, membukukannya, dan dikenal sebagai Weda. Beliau juga dikenal dengan nama Krishna Dwaipayana. Beliau adalah filsuf, sastrawan India yang menulis epos terbesar di dunia, yaitu Mahabharata. Sebagian riwayat hidupnya diceritakan dalam Mahabharata. Dalam Mahabharata, dapat diketahui bahwa orangtua Resi Byasa adalah Bagawan Parasara dan Dewi Satyawati (alias Durgandini atau Gandhawati).

Kelahiran

Dalam kitab Mahabharata diketahui bahwa orangtua Byasa adalah Resi Parasara dan Satyawati. Diceritakan bahwa pada suatu hari, Resi Parasara berdiri di tepi Sungai Yamuna, minta diseberangkan dengan perahu. Satyawati menghampirinya lalu mengantarkannya ke seberang dengan perahu. Di tengah sungai, Resi Parasara terpikat oleh kecantikan Satyawati. Satyawati kemudian bercakap-cakap dengan Resi Parasara, sambil menceritakan bahwa ia terkena penyakit yang menyebabkan badannya berbau busuk. Ayah Satyawati berpesan, bahwa siapa saja lelaki yang dapat menyembuhkan penyakitnya boleh dijadikan suami. Mendengar hal itu, Resi Parasara berkata bahwa ia bersedia menyembuhkan penyakit Satyawati. Karena kesaktiannya sebagai seorang resi, Parasara menyembuhkan Satyawati dalam sekejap.
Setelah lamaran disetujui oleh orangtua Satyawati, Parasara dan Satyawati melangsungkan pernikahan. Kedua mempelai menikmati malam pertamanya di sebuah pulau di tengah sungai Yamuna, konon terletak di dekat kota Kalpi di distrik Jalaun di Uttar Pradesh, India. Di sana Resi Parasara menciptakan kabut gelap nan tebal agar pulau tersebut tidak dapat dilihat orang. Dari hasil hubungannya, lahirlah seorang anak yang sangat luar biasa. Ia diberi nama Krishna Dwaipayana, karena kulitnya hitam (krishna) dan lahir di tengah pulau (dwaipayana). Anak tersebut tumbuh menjadi dewasa dengan cepat dan mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang resi.

Weda Wyasa

Umat Hindu memandang Krishna Dwaipayana sebagai tokoh yang membagi Weda menjadi empat bagian (Catur Weda), dan oleh karena itu ia juga memiliki nama Weda Wyasa yang artinya “Pembagi Weda”. Kata Wyasa berarti “membelah”, “memecah”, “membedakan”. Dalam proses pengkodifikasian Weda, Wyasa dibantu oleh empat muridnya, yaitu Pulaha, Jaimini, Samantu, dan Wesampayana.

Telah diperdebatkan apakah Wyasa adalah nama seseorang ataukah kelas para sarjana yang membagi Weda. Wisnupurana memiliki teori menarik mengenai Wyasa. Menurut pandangan Hindu, alam semesta adalah suatu siklus, ada dan tiada berulang kali. Setiap siklus dipimpin oleh beberapa Manu, satu untuk setiap Manwantara, yang memiliki empat zaman, disebut Catur Yuga (empat Yuga). Dwapara Yuga adalah Yuga yang ketiga. Purana (Buku 3, Ch 3) berkata:
Dalam setiap zaman ketiga (Dwapara), Wisnu, dalam diri Wyasa, untuk menjaga kualitas umat manusia, membagi Weda, yang seharusnya satu, menjadi beberapa bagian. Mengamati terbatasnya ketekunan, energi, dan dengan wujud yang tak kekal, ia membuat Weda empat bagian, sesuai kapasitasnya; dan raga yang dipakainya, dalam menjalankan tugas untuk mengklasifikasi, dikenal dengan nama Wedawyasa

Tokoh Mahabharata

Selain dikenal sebagai tokoh yang membagi Weda menjadi empat bagian, Byasa juga dikenal sebagai penulis (pencatat) sejarah dalam Mahabharata, namun ia juga merupakan tokoh penting dalam riwayat yang disusunnya itu. Ibunya (Satyawati) menikah dengan Santanu, Raja Hastinapura. Dari perkawinannya lahirlah Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada gugur dalam suatu pertempuran, sedangkan Wicitrawirya wafat karena sakit. Karena kedua pangeran itu wafat tanpa memiliki keturunan, Satyawati menanggil Byasa agar melangsungkan suatu yajña (upacara suci) untuk memperoleh keturunan. Kedua janda Wicitrawirya yaitu Ambika dan Ambalika diminta menghadap Byasa sendirian untuk diupacarai.

Sesuai dengan aturan upacara, pertama Ambika menghadap Byasa. Karena ia takut melihat wajah Byasa yang sangat hebat, maka ia menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, Byasa berkata bahwa anak Ambika akan terlahir buta. Kemudian Ambalika menghadap Byasa. Sebelumnya Satyawati mengingatkan agar Ambalika tidak menutup mata supaya anaknya tidak terlahir buta seperti yang terjadi pada Ambika. Ketika Ambalika memandang wajah Byasa, ia menjadi takut namun tidak mau menutup mata sehingga wajahnya menjadi pucat. Byasa berkata bahwa anak Ambalika akan terlahir pucat. Anak Ambika yang buta bernama Dretarastra, sedangkan anak Ambalika yang pucat bernama Pandu. Karena kedua anak tersebut tidak sehat jasmani, maka Satyawati memohon agar Byasa melakukan upacara sekali lagi. Kali ini, Ambika dan Ambalika tidak mau menghadap Byasa, namun mereka menyuruh seorang dayang-dayang untuk mewakilinya. Dayang-dayang itu bersikap tenang selama upacara, maka anaknya terlahir sehat, dan diberi nama Widura.
Ketika Gandari kesal karena belum melahirkan, sementara Kunti sudah memberikan keturunan kepada Pandu, maka kandungannya dipukul. Kemudian, seonggok daging dilahirkan oleh Gandari. Atas pertolongan Byasa, daging tersebut dipotong menjadi seratus bagian. Lalu setiap bagian dimasukkan ke dalam sebuah kendi dan ditanam di dalam tanah. Setahun kemudian, kendi tersebut diambil kembali. Dari dalamnya munculah bayi yang kemudian diasuh sebagai para putera Dretarastra.

Byasa tinggal di sebuah hutan di wilayah Kurukshetra, dan sangat dekat dengan lokasi Bharatayuddha, sehingga ia tahu dengan detail bagaimana keadaan di medan perang Bharatayuddha, karena terjadi di depan matanya sendiri. Setelah pertempuran berakhir, Aswatama lari dan berlindung di asrama Byasa. Tak lama kemudian Arjuna beserta para Pandawa menyusulnya. Di tempat tersebut mereka berkelahi. Baik Arjuna maupun Aswatama mengeluarkan senjata sakti. Karena dicegah oleh Byasa, maka pertarungan mereka terhenti.

Penulis Mahabharata

Pada suatu ketika, timbul keinginan Resi Byasa untuk menyusun riwayat keluarga Bharata. Atas persetujuan Dewa Brahma, Hyang Ganapati (Ganesha) datang membantu Byasa. Ganapati meminta Wyasa agar ia menceritakan Mahabharata tanpa berhenti, sedangkan Ganapati yang akan mencatatnya. Setelah dua setengah tahun, Mahabharata berhasil disusun. Murid-murid Resi Byasa yang terkemuka seperti Pulaha, Jaimini, Sumantu, dan Wesampayana menuturkannya berulang-ulang dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

dari MP Widi Rahtomo

Nama Lain : Kresna Dwipayana, Rancakaprawa, Sutiknaprawa, Wiyasa

Nama Ayah : Begawan Palasara

Nama Ibu : Satyawati

Saudara tiri : Bisma, Citrānggada, Wicitrawirya

Saudara yg lain  : Bimakinca, Kencarupa, Rajamala, Rekatawati, Rupakenca, Setatama

Nama Istri : Ambika, Ambalika, Datri

Nama Anak : Destarata, Pandu, Yamawidura

Tempat Tinggal : Sapta Arga

Riwayat hidup :

Begawan Abiyasa lahir di sebuah pulau Alas Gajah Oya, yang kemudian menjadi Astinapura. Ceritanya, ketika Begawan Palasara tapabrata, datanglah bidadari untuk mengganggunya, namun tidak berhasil. Kemudian Betara Guru menyuruh Betara Narada untuk berubah menjadi burung dan mengganggu Sang Begawan. Burung tersebut membuat sangkar dan beranak di atas kepala Sang Begawan, tapi kemudian burung itu pergi. Sang Begawan Palasara merasa kasihan pada anak burung yang ditinggal dan mencari induk burung yang meninggalkan anaknya. Sampailah Begawan Palasara di tepi Sungai Gangga. Ia melihat Dewi Durgandini dan memintanya untuk mengantar ia menyebrang. Di perahu itu terjadi percakapan dan tahulah bahwa Dewi Durgandini menderita penyakit, yaitu bau amis di sekujur tubuhnya. Begawan Palasara sanggup menyembuhkannya. Menikahlah Begawan Palasara dan Dewi Durgandini. Kemudian lahir Sang Abiyasa. Setelah kelahiran Abiyasa, bau amis hilang dan Dewi Durgandini berganti nama menjadi Dewi Setyawati. Begawan Palasara mengubah alat-alat untuk melahirkan menjadi Bimakinca, Kencarupa, Rajamala, Dewi Rekatawati, Rupakenca, dan Setatama. Semuanya menjadi saudara Abiyasa. Begawan Palasara pun meninggalkan kehidupan dan bertapa di Rahtawu, pegunungan Sapta Arga. Dewi Setyawati kemudian menikah dengan Prabu Sentanu.

Begawan Abiyasa mengikuti ayahnya yang bertapa di Rahtawu. Setelah kematian Citranggada dan Citrawirya anak-anak Dewi Setyawati dengan Prabu Sentanu, Dewi Setyawati meminta Begawan Abiyasa untuk memberikan keturunan. Atas permintaan ibunya, Begawan Abiyasa menikah dengan janda adik tirinya. Maka lahirlah Destarata yang buta dari Dewi Ambika dan Pandu yang tengleng dan bule dari Dewi Ambalika. Karena anaknya cacat, Dewi Satyawati memintanya untuk berketurunan lagi sehingga lahir Yamawidura dari dayang bernama Datri. Namun, Yamawidura pun cacat, yaitu kakinya timpang. Setelah anak2nya cukup dewasa, ia menyerahkan kepemimpinan kepada Pandu.

Setelah perang Baratayuda berakhir, Begawan Abiyasa berkeliling mengelilingin Padang Kuru Seta diiringi oleh seluruh keluarganya melihat bekas-bekas Baratayuda. Begawan Abiyasa merasa terharu ketika mengetahui tempat bekas Perang Baratayuda yang rusak, dan mengetahui banyak jiwa-jiwa yang belum sempurna. Maka Begawan Abiyasa memperbaiki tempat-tempat yang rusak dan memuja jiwa-jiwa yang belum sempurna sehingga menjadi sempurna. Saat diketahui bahwa Pendeta Durna belum sempurna jiwanya, maka Begawan Durna menyempurnakan jiwa Pendeta Durna, hal ini membuat terharu hati para Pendawa dan keluarga. Begawan Abiyasa berumur panjang sehingga bisa melihat cicitnya Parikesit lahir. Pada akhir hayatnya, ia moksa dengan dijemput kereta kencana dari kahyangan. Begawan Abiyasa adalah seorang begawan yang sangat sakti. Begawan Abiyasa juga dipercaya sebagai orang yang menulis riwayat keluarga Barata.

ANUGERAH DEWABRATA

Rombongan Dewabrata mendapat sambutan yang meriah dari rakyat Astinapura. Dewabrata telah mengharumkan nama Astinapura dengan memenangkan sayembara. Rakyat Astinapura begitu mengagumi kecantikan para putri boyongan dari Negara Kasi. Namun, mereka juga bertanya-tanya, mengapa hanya dua? Di mana yang satu?
Prabu Sentanu dan Dewi Setyawati menyambut kedatangan mereka dengan penuh sukacita. Tanpa sengaja Prabu Sentanu menanyakan tentang Dewi Amba kepada Dewabrata. Dewabrata hanya diam. Prabu Sentanu segera ingat bahwa Dewabrata telah berjanji untuk hidup wadat, maka dari itu Dewi Amba tidak diboyong. Prabu Sentanu segera minta maaf dan mengalihkan pembicaraan agar Dewabrata tidak sedih.
Pesta syukur yang diadakan untuk merayakan kemenangan dan kejayaan Astinapura serta merayakan pernikahan kedua putra raja berlangsung sangat meriah. Rakyat Astinapura dan raja-raja dari Negara sahabat yang hadir turut bahagia.
Setelah pesta usai, Dewabrata mengutarakan keinginannya untuk meninggalkan istana dan menjalani tapa ngrame sebagai resi dan tinggal di padepokan. Setelah mendengar penjelasan dari Dewabrata, akhirnya Prabu Sentanu percaya bahwa apa yang dilakukan Dewabrata baik adanya. Prabu Sentanu menghadiahkan Bumi Talkanda menjadi bumi perdikan untuk dibangun menjadi sebuah padepokan.
Dewabrata berangkat ke Bumi Talkanda dengan diikuti oleh Badranaya abdi yang setia. Prabu Sentanu dan Dewi Setyawati melepas kepergian Dewabrata dengan berat hati.
Keberadaan Dewabrata di Talkanda memberi rasa aman bagi warga di sekitarnya. Karena kesaktian Dewabrata semakin hari semakin banyak saja yang berguru kepada Dewabrata.
Mendapat kabar baik dari Talkanda, Prabu Sentanu turut bahagia. Ternyata darmabakti Dewabrata di Talkanda menjadi perpanjangan tangan kerajaan Astinapura dalam menciptakan ketentraman dan kesejahteraan rakyat. Pada saat tertentu di tengah kesibukannya, Dewabrata menghadap Prabu Sentanu dan Dewi Setyawati serta mengunjungi kedua adiknya.
Prabu Sentanu sadar bahwa dirinya semakin tua dan tak lama lagi akan meninggal. Suatu hari Prabu Sentanu memanggil Dewabrata dan menceritakan tentang ibunya. Ibu Dewabrata bernama Dewi Ganggawati. Dewi Ganggawati dihukum untuk turun ke bumi karena pada saat pisowanan agung bajunya tersibak tertiup angina. Hal itu mengganggu para dewa yang juga hadir dalam pisowanan agung tersebut. Sesampainya di bumi, Ganggawati bertemu dengan 8 wasu. Kedelapan wasu tersebut karena telah berbuat tidak sopan kepada sang guru sehingga mereka diusir. Untuk itu mereka memohon bantuan kepada Dewi Ganggawati. Karena kasihan, Dewi Ganggawati bersedia membantu mereka. Ganggawati akan melahirkan mereka kembali secara berurutan setelah ia mendapatkan suami. Para wasu gembira mendengar kata-kata Ganggawati dan berterima kasih padanya.
Ganggawati bertemu dengan Prabu Sentanu di sungai Gangga. Pada saat itu juga Prabu Sentanu melamarnya. Dewi Ganggawati menerimanya asal Prabu Sentanu tidak menanyakan asal usulnya dan tidak menegur perbuatannya. Prabu Sentanu menyanggupinya. Setelah menjadi sepasang suami istri, Prabu Sentanu melihat Ganggawati membuang bayi yang baru saja dilahirkannya. Setelah bayi yang kedelapan, Prabu Sentanu tidak tahan lagi. Saat bayi kesembilan digendong Ganggawati, Prabu Sentanu menghadangnya dan mencegahnya dengan nada tinggi. Ganggawati terkejut dan menjelaskan semuanya. Karena Prabu Sentanu telah mengingkari janji, Dewi Ganggawati meninggalkannya.
Prabu Sentanu meminta maaf kepada Dewabrata karena telah membuatnya terpisah dari ibunya dan kehilangan tahta kerajaan. Meskipun yakin bahwa ayahandanya tisak bersalah, Dewabrata memaafkannya.
Karena usianya yang semakin tua, Prabu Sentanu menghabiskan waktunya di pembaringan hingga akhirnya wafat. Seluruh rakyat Astinapura bersedih atas meninggalnya sang raja.
Setelah Prabu Sentanu meninggal, Citragada menjadi raja Astinapura. Seluruh rakyat Astinapura menjadi saksi penobatannya. Namun dengan Citragada menjadi raja, kerajaan Astinapura kian surut. Banyak kerajaan yang memberontak hingga akhirnya Citragada meninggal.
Karena Citragada belum mempunyai keturunan, maka Wicitrawitya yang menggantikan kakaknya menjadi raja. Sayang belum sempat ia membenahi keadaan Astinapura, ia sakit dan akhirnya wafat.
Dewi Setyawati hanya bias berkeluh kesah kepada Dewabrata. Dewabrata usul bagaimana jika Abiyasa, anak Dewi Setyawati dan Begawan Palasara, yang menjadi raja Astinapura.
Dewi Setyawati mengucapkan kata yang tulus dari hatinya. Dan ucapan tersebut menjadi kenyataan. Sang Hyang Narada turun menghampiri Dewabrata, ia diangkat menjadi Pandita Suci, mempunyai kemampuan yang hebat, diberi umur panjang, dan mempunyai gelar Resi Warabisma.
Dewi Setyawati pergi ke pertapaan Saptaarga tempat Abiyasa. Ia meminta izin kepada Begawan Palarasa untuk menjadikan Abiyasa sebagai raja. Abiyasa bersedia, dan menjadi raja.
Nayoan Kurnia Nuswantari
SD Negeri Deresan kelas VIa
Terbaik I Lomba Sinopsis Buku antar SD dalam rangka Hari Anak 2007

About these ads

One thought on “Abiyasa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s